BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2024

MENJALIN HARMONI: PENDIDIKAN MULTIKULTURAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN DAN TOLERANSI ANTARBUDAYA

Sumber: Pinterest

 Oleh:

Asrul¹

Azhar Syauqy RM Saeed²

Muhammad Rayhan³

¹Mahasiswa Semester 6 Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Palopo

²Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Dirasat Islamiyah wal Arabiyah Univ. Al-Azhar Cairo Mesir

³Mahasiswa Tingkat 3 Fakultas Ushuluddin Univ. Al-Azhar Cairo Mesir 

Pendidikan multikultural merupakan sebuah pendekatan pendidikan yang mengakui, menghargai, dan merayakan keberagaman budaya dalam masyarakat. Dalam konteks global saat ini, di mana interaksi antar budaya semakin meningkat, pendidikan multikultural menjadi semakin penting sebagai sarana untuk mempromosikan pemahaman dan toleransi antar budaya. Tulisan ini akan membahas mengenai pentingnya pendidikan multikultural dalam membangun pemahaman dan toleransi antar budaya. Pendidikan multikultural tidak hanya mencakup pembelajaran tentang berbagai budaya, tetapi juga bagaimana individu berinteraksi dan merespons keberagaman tersebut dengan cara yang positif.

Pendidikan ini menekankan pengakuan dan penghargaan terhadap keanekaragaman budaya sebagai aset yang memperkaya, bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari. Multikulturalisme antar budaya memiliki banyak manfaat dan penting, seperti memperkaya kehidupan kita dengan memperkenalkan berbagai tradisi, nilai, dan perspektif budaya. Hal ini membuat masyarakat lebih kaya dan berwarna. Selain itu, multikulturalisme juga membantu dalam pengembangan empati dan toleransi, di mana individu belajar untuk memahami dan menghargai perbedaan orang lain.

Pendidikan multikultural berakar pada ide bahwa keberagaman budaya, ras, etnis, dan agama merupakan kekayaan yang harus diterima dan dirayakan oleh semua individu dalam masyarakat. Lebih dari sekadar memahami perbedaan, pendidikan ini mengajarkan kita untuk merangkul keanekaragaman sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Toleransi antar budaya adalah kemampuan untuk menghargai dan menghormati perbedaan budaya, agama, dan kepercayaan antar individu atau kelompok. Berikut beberapa contoh toleransi antar budaya: menghadiri perayaan atau ritual keagamaan dari budaya lain tanpa mengkritik atau menilai, berpartisipasi dalam diskusi atau dialog antar budaya untuk memahami perspektif dan pengalaman orang lain, menghormati hak setiap individu untuk mempraktikkan agama atau kepercayaannya tanpa diskriminasi atau penindasan, mengajarkan dan mempromosikan nilai-nilai toleransi kepada generasi muda agar mereka tumbuh dengan pemahaman yang luas tentang keanekaragaman budaya, serta menyadari dan menghindari prasangka atau stereotip negatif terhadap kelompok etnis atau budaya tertentu.

Pendidikan multikultural juga bertujuan untuk membangun kesadaran kritis terhadap isu-isu sosial dan ketidakadilan yang mungkin timbul dari perbedaan budaya. Ini melibatkan refleksi terhadap praktik-praktik yang diskriminatif dan mencari cara untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan adil. Melalui pendidikan multikultural, individu diharapkan dapat mengembangkan sikap terbuka dan proaktif dalam menghadapi dan menyelesaikan konflik yang berkaitan dengan perbedaan budaya.

Sebagai contoh, dalam lingkungan pendidikan, siswa diajarkan untuk bekerja sama dalam kelompok yang beragam dan menghargai kontribusi masing-masing anggota, tanpa memandang latar belakang budaya mereka. Selain itu, pengenalan literatur dan sejarah dari berbagai budaya dalam kurikulum dapat membantu siswa memahami dan menghargai perjalanan dan perjuangan berbagai kelompok etnis dan budaya. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya wawasan siswa, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan sosial dan emosional yang penting untuk kehidupan dalam masyarakat yang semakin global dan beragam.

Salah satu tujuan utama pendidikan multikultural adalah membangun pemahaman yang mendalam tentang berbagai budaya yang ada di dunia. Dengan memperkenalkan siswa kepada tradisi, nilai, dan perspektif dari budaya yang berbeda, pendidikan multikultural membantu siswa melihat dunia dari perspektif yang lebih luas dan inklusif. Pendekatan ini memungkinkan siswa mengembangkan sikap terbuka dan pemikiran kritis yang mempertimbangkan berbagai sudut pandang.

Selain membangun pemahaman, pendidikan multikultural juga berperan penting dalam mempromosikan toleransi antar budaya. Dengan mengajarkan siswa untuk menghargai dan menghormati perbedaan, pendidikan ini membantu mencegah diskriminasi, prasangka, dan konflik antar kelompok. Siswa diajarkan untuk melihat keberagaman sebagai kekayaan yang memperkaya kehidupan mereka, bukan sebagai ancaman atau hambatan.

Tidak hanya itu, pendidikan multikultural juga mempersiapkan siswa untuk menjadi warga global yang kompeten. Di era globalisasi ini, kemampuan untuk bekerja dan berkolaborasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya menjadi sangat penting. Pendidikan multikultural membekali siswa dengan keterampilan interkultural yang diperlukan untuk berkomunikasi dan bekerja sama secara efektif dalam konteks global.

Namun, implementasi pendidikan multikultural tidak selalu mudah. Tantangan dalam mengintegrasikan kurikulum yang multikultural, pelatihan guru, dan mendapatkan dukungan dari masyarakat seringkali muncul. Dengan komitmen dan kerjasama dari semua pihak, pendidikan multikultural dapat menjadi alat yang efektif dalam mempromosikan pemahaman dan toleransi antar budaya.

Tantangan dalam penerapan pendidikan multikultural masih ada. Salah satunya adalah resistensi dari individu atau kelompok yang mungkin merasa tidak nyaman atau terancam dengan keberagaman. Oleh karena itu, pendidikan multikultural harus diberikan dengan pendekatan yang sensitif dan inklusif, mengakui kekhawatiran dan perasaan semua pihak yang terlibat.

Sebagai penutup, pendidikan multikultural memiliki peran yang sangat penting dalam membangun pemahaman dan toleransi antar budaya. Dengan mengakui dan menghargai keberagaman budaya, kita dapat membangun masyarakat yang lebih inklusif, harmonis, dan damai. Oleh karena itu, pendidikan multikultural harus terus didukung dan diperkuat dalam sistem pendidikan kita untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan bagi semua warga dunia.


Kamis, 02 Mei 2024

MEMAHAMI REALITAS: MENGUAK FAKTA DI BALIK PERMAINAN JUDI ONLINE YANG DISAMARKAN SEBAGAI GAME

Sumber: Pinterest

 Oleh:

Sabita Aulia¹
Aqsha Rif'at²

¹Mahasiswi Semester 6 Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Palopo
²Mahasiswa Tingkat 1 Jurusan Tafsir Fakultas Ushuluddin Univ. Al-Azhar Cairo Mesir

Permainan judi online berkedok game telah menjelma menjadi fenomena populer dalam beberapa tahun terakhir. Kombinasi antara aspek-aspek dari perjudian konvensional dan pengalaman bermain game yang mendebarkan telah menarik banyak perhatian, khususnya dari kalangan generasi muda yang gemar dengan teknologi dan dunia game. Meskipun menawarkan desain permainan yang menarik untuk menarik pemain, terdapat fakta-fakta yang perlu diperhatikan dengan serius di balik keseruannya.

Dalam esai ini, kami akan mengeksplorasi berbagai aspek terkait permainan judi online yang berkedok game, meliputi perbedaannya dengan permainan video konvensional, dampak psikologis yang mungkin timbul, serta tantangan dalam regulasi dan isu-etika yang menyertainya. Hal ini bertujuan untuk memberikan sudut pandang komprehensif mengenai fenomena yang kontroversial ini.

Permainan judi online berkedok game memiliki perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan permainan video konvensional. Meskipun keduanya mungkin memanfaatkan elemen desain yang serupa seperti grafis yang menarik dan mekanika permainan yang adiktif, permainan judi online memperkenalkan unsur perjudian yang dapat berdampak signifikan pada perilaku pemain. Dalam konteks permainan judi online, pemain sering diberi insentif untuk menghabiskan uang sungguhan melalui pembelian dalam permainan atau taruhan langsung, sebuah aspek yang tidak terdapat dalam permainan video konvensional. Hal ini dapat meningkatkan persepsi risiko dan memicu perilaku judi yang tidak sehat.

Desain permainan judi online berkedok game dapat memiliki dampak psikologis yang serius pada para pemainnya. Mekanika permainan yang dirancang untuk merangsang perilaku kecanduan, seperti hadiah acak dan skema hadiah yang mendorong pemain untuk terus bermain, dapat menyebabkan pengembangan kebiasaan berjudi yang berisiko tinggi. Selain itu, dampak sosial dari jenis permainan ini juga perlu dipertimbangkan dengan serius. Partisipasi yang meningkat dalam perjudian online dapat mengarah pada isolasi sosial, konflik dalam hubungan interpersonal, dan meningkatkan risiko keuangan bagi individu dan keluarganya.
Pentingnya memahami implikasi psikologis dan sosial dari permainan judi online berkedok game tidak dapat dilewatkan begitu saja. Regulasi yang tepat dan kesadaran akan potensi dampak negatif ini sangat penting untuk melindungi pemain, terutama mereka yang rentan terhadap pengaruh negatif dari perjudian online.

Salah satu tantangan utama yang terkait dengan permainan judi online berkedok game adalah regulasi dan isu etika yang melingkupinya. Regulasi yang tidak memadai dapat meninggalkan pemain rentan terhadap risiko pengeluaran berlebihan dan kecanduan. Di sisi lain, isu etika muncul terkait dengan pemasaran yang agresif kepada pemain muda dan rentan, serta ketidakseimbangan antara keuntungan ekonomi perusahaan game dengan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Penanganan masalah terkait sangat penting. Diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran akan risiko perjudian online dan menyediakan bantuan bagi individu yang terpengaruh. Regulasi yang ketat dan berkelanjutan harus diterapkan untuk melindungi pemain dari eksploitasi dan mempromosikan praktik yang bertanggung jawab dalam industri ini. Hal ini juga penting untuk memastikan bahwa keuntungan ekonomi dari permainan judi online tidak melampaui kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, dengan mempertimbangkan dampak sosial dan psikologis yang ditimbulkan.

Dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, kita dapat membangun lingkungan permainan online yang lebih aman dan berkelanjutan bagi semua pemainnya.

Permainan judi online, seringkali menggoda dengan grafis yang memikat dan janji-janji hadiah besar, sebenarnya memiliki dampak merugikan yang signifikan bagi individu dan masyarakat secara luas. Salah satu dampak merugikan utama dari permainan judi online adalah risiko kecanduan judi. Desain permainan yang dirancang untuk memicu perilaku kecanduan, seperti hadiah acak dan skema hadiah yang mendorong pemain untuk terus bermain, dapat membuat individu terjerat dalam spiral kebiasaan berjudi yang berisiko tinggi.

Kecanduan judi tidak hanya berdampak secara finansial dengan meningkatkan pengeluaran dan utang, tetapi juga memiliki dampak negatif pada kesehatan mental dan kesejahteraan sosial. Orang yang kecanduan judi online cenderung mengalami tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi. Selain itu, hubungan interpersonal dan stabilitas keluarga juga dapat terganggu oleh kegiatan judi yang tersembunyi dan pengeluaran yang tidak terkendali.

Dampak sosial dari kecanduan judi online juga dapat meluas ke masyarakat secara keseluruhan, termasuk meningkatnya kejahatan terkait judi seperti penipuan dan pencucian uang, serta beban ekonomi yang ditanggung oleh sistem perawatan kesehatan dan pelayanan sosial.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengakui risiko kecanduan judi online dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melindungi individu dan masyarakat dari dampak merugikan yang ditimbulkannya. Regulasi yang ketat, kesadaran publik yang meningkat, dan layanan bantuan yang tersedia dapat membantu mengurangi prevalensi kecanduan judi online dan mengurangi dampak negatifnya pada individu dan komunitas secara luas.

Dengan menyelidiki fakta-fakta yang terkait dengan permainan judi online berkedok game, kita dapat lebih memahami kompleksitas fenomena ini dan mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk melindungi masyarakat dari dampak negatifnya. Regulasi yang lebih ketat, pendidikan yang lebih baik, dan intervensi psikologis yang lebih luas merupakan langkah-langkah penting untuk menangani tantangan yang dihadapi oleh permainan semacam ini dalam masyarakat modern.
Regulasi yang diperbarui dan diperkuat dapat membantu mengontrol praktik perjudian online yang berpotensi merugikan. Hal ini meliputi pembatasan terhadap iklan yang ditujukan kepada pemain muda dan rentan serta pengaturan ketat terkait dengan transparansi dan keamanan dalam operasi permainan judi online.

Pendidikan yang lebih baik tentang risiko perjudian online perlu diperluas, tidak hanya untuk pemain potensial tetapi juga untuk keluarga dan pendidik. Pemahaman yang lebih baik tentang potensi risiko dapat membantu mengurangi tingkat kecanduan dan kerugian yang terkait dengan permainan judi online.

Intervensi psikologis yang lebih luas juga penting untuk membantu individu yang telah terpengaruh atau rentan terhadap kecanduan judi online. Layanan konseling dan dukungan psikologis dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah perjudian dan memulihkan kesehatan mental individu yang terpengaruh.

Dengan pendekatan holistik yang melibatkan regulasi yang ketat, pendidikan yang lebih baik, dan intervensi psikologis yang efektif, kita dapat bergerak menuju lingkungan permainan online yang lebih aman dan berkelanjutan bagi semua orang. Langkah-langkah ini tidak hanya akan melindungi individu dari bahaya kecanduan judi online, tetapi juga mendukung kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Selasa, 28 November 2023

Kurang Perhatian,... Kekerasan

 


Kemarin...

media jurnalistik tak henti-henti mengabarkan sebuah peristiwa yang kian menjadi sorotan publik, terutama di kalangan Mahasiswa Indonesia Mesir (MASISIR).

Menyuguhkan dua garis besar pandangan. Seolah, yang terjadi memang merupakan dua hal yang berbeda. Tak banyak yang tertarik untuk mengupas sebab terjadinya hal yang konon berbeda itu.  

Kini, yang tersisa hanyalah arsipan berita, mengakar dan menjadi saksi dalam karya jurnalistik yang ada.

Menjunjung tinggi harga diri dan rasa malu (siri'), merupakan sifat yang melekat erat pada suku Bugis/Makassar. Sebuah konsep yang membuat pemilik siri' itu senantiasa mempertahankan dan malu melakukan perbuatan buruk yang akan menurunkan harga dirinya. Namun dalam menerapkannya, terkadang ada yang salah mengartikan, Dimana ketika merasa harga dirinya itu sedang dinodai maka dengan segera ia akan melakukan tindak kekerasan yang juga berakibat pada menurunnya siri' itu sendiri.

Merasa benar dengan tindakannya, "toh, saya melakukan ini, demi mempertahankan siri!".  

Bukannya penulis ingin mengatakan bahwa itu perbuatan yang benar atau tidak, tetapi apakah itu satu-satunya cara yang dapat dilakukan?!. 

Menurut March F Makaampoh. 2013, "Premanisme adalah perilaku yang menimbulkan tindak pidana yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. 

Percikan api menyebabkan kebakaran. Jadi, apakah ada sebab yang melatarbelakangi suatu 'perkelahian'?! 

Jalas... 

"Jangan main api", kata orang tua dulu, saat kita masih kecil. Dan sekarang, tidakkah kita paham maksud dari larangan itu?! 

Pada umumnya 'perkelahian' merupakan buah dari tiadanya rasa saling memahami dan menghargai dari kedua belah pihak, misalnya, ketika pihak A dihina, difitnah dan apapun bentuknya, tentu secara naluriah ia akan melakukan hal yang serupa sesuai dengan yang ia dapatkan, bahkan akan melakukan lebih dari itu, begitu pun pihak B, sebaliknya. 

Ketika terjadi tindak kekerasan, bukan berarti pihak yang melakukan kekerasan itu sepenuhnya bersalah, namun juga perlu diperhatikan, apa sebenarnya yang memicu tindakan itu terjadi.  

Maka dari itu, tentu dibutuhkan sesuatu yang menjadi penengah layaknya orang tua ketika menengahi perkelahian di antara anak-anaknya. Sekali lagi, ini adalah 'perkelahian' bukan 'penyerangan' seorang saudara ke saudaranya. Melerai, mengevaluasi, menasehati dan juga berusaha mencari sebab dari pertengkaran anak-anaknya. 

Di lain sisi, banyak kita saksikan tindak kekerasan dalam masyarakat, seperti yang dilakukan oleh para preman di pasar, di gang dan sebagainya, namun ketika premanisme disandarkan pada orang-orang kerap kali disebut dengan pewaris nabi, yang notabenenya merupakan mahasiswa Al-Azhar, wajarkah hal ini terjadi? 

Mengaplikasikan ilmu yang dimiliki dan kesadaran dari kedua belah pihak yang tengah berada dalam ruang tertutup tanpa ventilasi itu sangat ditekankan.  

 Perlu ditekankan juga, bahwa orang tua dalam mendidik anaknya, tidak boleh tergesa-gesa dalam memarahi ataupun mengambil keputusan ketika terjadi masalah, dengan artian 'hanya' menilai berdasarkan bisikan hati tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang akan terjadi pada anak-anaknya. Dalam hadis, "...Hakim yang salah dalam memberikan ampunan, lebih baik daripada hakim yang salah dalam memberikan hukuman".

 Pada hakikatnya, manusia ketika menghadapi perbuatan yang menyakitkan, ia akan condong untuk membalas dengan perbuatan yang sepadan bahkan lebih, bila tidak segera ditangani, maka di kondisi ini nafsu akan menjadi pengontrol seakan menghijabi akal dengan kain hitam yang menutup pandangan, namun bukankah Islam datang dengan membawa sebuah jalan yang begitu luhur, dimana ini dicontohkan langsung oleh rolemodel kita dan yang senantiasa mengikutinya?!  

Oleh: Mushawwir Rahman 

 

 

 

 

 

Kamis, 20 Juli 2023

Bagaimana Almamater Di Kalangan Masisir Saling Menjaga Silaturahminya?

 



Oleh: Try Hamdani Hamid

Almamater dikalangan masisir merupakan salah satu wadah perkumpulan mahasiswa/i yang memiliki latar belakang sekolah yang sama atau berasal dari pondok pesantren yang sama. Ada IKPM untuk alumni Gontor, Ikadaqu untuk alumni Daarul Qur’an, IKPDN untuk alumni Darunnajah, dan masih banyak lagi almamater-almamater di masisir, baik itu pondok pesantren yang ada di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Adapun untuk pondok pesantren yang ada di Sulawesi, seperti IADI untuk alumni DDI, IKA Al-Ikhlas untuk alumni ponpes Al-Ikhlas, IKAKAS untuk alumni As’adiyah, FK Baiquni untuk alumni MANPK Makassar, dan HIKMAT untuk alumni AlKhairat, Palu.

Banyaknya almamater yang ada di masisir, membuat dinamika keorganisasian di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir semakin berwarna. Di dalam struktural keorganisasian KKS Mesir sendiri, ada salah satu Badan Otonom (BO) khusus yang bertugas untuk mengatur koordinasi antar almamater yang berada dibawah naungan KKS (secara kultural). BO ini menjadi salah satu media silaturahmi yang dihadirkan oleh KKS Mesir untuk menjaga hubungan antar sesama almamater yang pondoknya berada di Kawasan Indonesia Timur, khususnya Sulawesi. Salah satu kegiatan yang pernah diadakan oleh BO ini adalah diskusi panel antar almamater se-KKS yang pada saat itu diketuai oleh kakanda Fikrul Khalis Ukkas (Punggawa KKS Mesir 2022-2023).

Bidang akademik memang menjadi media yang cukup efektif untuk menjalin hubungan antar almamater. Salah satu bentuk kegiatan yang saya tawarkan sebagai penulis adalah mengadakan kunjungan ke forum-forum diskusi yang diadakan oleh sebuah almamater. Sehingga almamater tamu bisa mengenal corak dari forum diskusi yang diadakan oleh almamater tuan rumah. Sebagai contoh, pengurus IADI Mesir hadir diforum diskusi fakultatif yang diadakan oleh IKA Al-Ikhlas, atau pengurus FK. Baiquni ikut dalam forum Nadwah yang diadakan oleh IADI Mesir.

Selain bidang akademik, bidang olahraga juga bisa menjadi salah satu media silaturahmi yang efektif bagi almamater. Banyak kegiatan-kegiatan olahraga yang pesertanya ditujukan kepada almamater-almamater semasisir. Seperti IADI Cup yang diadakan oleh IADI Mesir, IKAKAS Cup yang diadakan oleh IKAKAS Mesir, IKBAL Champions Cup yang diadakan oleh IKBAL Kairo, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan olahraga yang melibatkan banyak almamater di masisir.

Dalam bidang olahraga, selain event-event besar, pertandingan persahabatan pekanan antar almamater juga menjadi wadah silaturahmi, yang tentunya tidak membutuhkan biaya yang sebesar event-event di atas. Pertandingan persahabatan ini juga bisa disajikan seperti pertandingan-pertandingan persahabatan pada umumnya, yaitu dengan saling tukar cenderamata ketika di lapangan, baik itu berupa logo almamater ataupun barang lainnya yang menggambarkan identitas dari almamater tersebut.

Selain kegiatan-kegiatan yang saya tulis di atas, masih banyak lagi wadah-wadah yang bisa menjalin silaturahmi antar almamater, seperti Visual Academy yang diadakan oleh IADI Mesir yang pesertanya berasal tidak hanya dari IADI sendiri, tapi juga dari almamater selain IADI. Saya harap kegiatan-kegiatan seperti ini tetap diadakan yaitu dengan melibatkan anggota-anggota dari almamater luar, terlepas dari apa pun corak kegiatannya. Yang terpenting adalah setiap almamater harus lebih terbuka agar selalu terjalin sebuah silaturahmi dengan almamater yang lain.


Jumat, 22 Juli 2022

Memaknai Almamater Terbaik

Lambang IADI Mesir

 

Oleh: H. Halim Bahri, Lc., Dipl. (Penasehat IADI)

Menjadi yang terbaik kadang merupakan impian bagi setiap orang termasuk juga bagi sebuah lembaga, perusahaan, organisasi, dan sejenisnya. IADI Mesir contohnya. Ikatan Alumni Darud Da'wa Wal Irsyad Mesir ini pernah mencapai puncak yang gemilang tatkala dinobatkan sebagai Almamater terbaik dalam ajang wisuda sarjana pascasarjana & PPMI Award tahun 2013 silam yang diselenggarakan di Al-Azhar Convension Center (ACC), Nasr City-Kairo.

Saat itu segenap warga IADI Mesir tentunya merasa sangat senang dan bangga karena almamaternya bukan hanya sanggup mengungguli setiap almamater yang ada di bawah naungan Keluarga Kerukunan Sulawesi (KKS), namun juga menaklukkan segenap almamater yang ada seantero masisir kala itu. Sungguh merupakan sebuah prestasi yang membanggakan tentunya. Namun dibalik flashback yang dirindukan ini, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin berseliweran dalam benak kita, masihkah IADI Mesir menyandang gelar itu saat in?

Sebelum menjawab itu mari kita sejenak melirik 'benang merah' yang membedakan IADI Mesir 2013 silam dan sekarang. Tentu banyak kita temukan perbedaan dalam hal ini, baik yang bersifat positif ataupun negatif. Salah satu perbedaan yang sangat menonjol adalah jumlah warga IADI Mesir yang mengenyam pendidikan Strata II (S2) dan Strata III (S3). Warga IADI Mesir yang mengenyam pendidikan S2 & S3 saat itu lumayan 'membludak’, selain membludak mereka pun terbilang ikut aktif dan turut andil dalam setiap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan DP IADI saat itu, baik sebagai Penasehat ataupun sebagai Dewan Konsultatif. Boleh dikata merekalah ‘gula’ yang menjadikan kegiatan-kegiatan IADI terasa manis untuk terus dihadiri, meskipun warga IADI pada saat itu bermukim di berbagai tempat yang saling berjauhan.

Berbeda halnya dengan kondisi saat ini, selain jumlah warga IADI yang menempuh jenjang S2 dan S3 hanya tinggal segelner orang, harus diakui kebanyakan dari mereka pun tak ambil bagian bahkan cenderung cuek terhadap kelangsungan program kegiatan almamaternya sendiri. Inilah salah satu perbedaan negatif yang dapat mengancam kontinuitas kemanfaatan IADI kedepannya. Di sisi lain, kita mendapati perbedaan yang terbilang positif, dimana warga 'muda' IADI yang merupakan Centre Point tujuan kemanfaatan IADI saat ini berjumlah lebih banyak berkali-kali lipat ketimbang tahun 2013 silam. Hal ini merupakan potensi besar yang dapat menutupi kekurangan sebelumnya jika diolah dan dimanfaatkan dengan efektif dan efisien. Tinggal bagaimana Dewan Pengurus berinisiatif dan mengambil manuver jitu dalam mencari pengganti ‘gula’ yang telah lama hilang itu, dengan mendapatkan ‘madu’ misalnya.

Maka dari itu, masihkah IADI sebagai almamater terbaik? Bagi penulis pribadi menjadi yang terbaik mungkinlah impian setiap orang, namun bukan berarti seseorang diciptakan hanya untuk menjadi yang terbaik dari yang lain. Begitupula almamater IADI kita yang tercinta. IADI Mesir didirikan oleh para pendahulu kita tentu tujuannya bukan hanya untuk menjadi yang terbaik dari almamater-almamater lain. Karena jikalau seperti itu pastilah IADI sudah bubar enam tahun silam. IADI Mesir didirikan sebagai wadah silaturahmi dan juga sarana pengembangan diri dan pengetahuan bagi para alumni DDI di Indonesia yang mengenyam pendidikan di Mesir. Bahkan IADI Mesir pun ikut merangkul dan membuka tangan selebar-lebarnya bagi siapa saja yang berminat untuk ikut serta dalam kemanfaatan yang ditebarkan IADI, terutama dalam tiga program unggulannya yang telah rutin diselenggarakan selama bertahun-tahun, yakni Nadwah Tafsunyyah, Nadwah Lughawiyyah, dan Nadwah 'Ilmiyyah. Tiga pilar utama inilah yang menjadikan IADI Mesir tetap sebagai almamater terbaik bagi siapa saja yang mengelolah dan memanfaatkannya dengan baik.

Olehnya, penilaian bahwa sesuatu itu baik atau yang terbaik itu relatif. Namun ingatkah kita akan petuah Baginda Rasulullah Saw: "Sebaik-baik dari kalian adalah yang paling banyak menebarkan manfaat”. Dan apakah IADI Mesir dan warganya mampu menebarkan manfaat itu? Mari kita liat sendiri!

ADDARIAH EDISI 57, 20 APRIL 2019

 
Copyright © 2014 Addariah. Designed by OddThemes