BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Buletin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buletin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juli 2023

Salam Redaksi

 

Media dan Pers 2022-2023


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Rindu, Pembaca Budiman.

 

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat-Nya sehingga Buletin Addariah kembali hadir menyapa pembaca Budiman. Ucapan terima kasih kepada rekan, teman, para senior atas dedikasinya dari awal pengerjaan buletin ini hingga hadirnya kembali menyapa pembaca, hal ini juga tak lepas dari dukungan dari setiap anggota/i IADI serta para penasihat.

Tak terasa hampir tiga tahun lamanya Buletin Addariah rehat, dikarenakan banyaknya kendala yang dihadapi baik itu faktor internal maupun eksternal. Terlepas dari itu semua kini Buletin Addariah kembali hadir menyapa pembaca pada edisi ke-59 ini. Buletin  Addariah kali ini hadir dengan bentuk online di Website Addariah (addariahmesir.blogspot.com), tanpa adanya bentuk cetakan dengan melalui beberapa pertimbangan. Mohon maaf sebesar-besarnya untuk para pembaca jika nanti terdapat kesalahan atau kekurangan yang belum memberi kesempurnaan kepada Anda. Itu tak lepas, karena kami hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan.

Buletin Addariah hadir dengan berbagai suguhan topik. Suguhan utama terletak pada rubrik wawancara, pembaca akan mendapati tentang kuantitas IADI yang semakin banyak, sejalankah dengan kualitasnya? Selanjutnya pembaca akan disuguhkan dengan berbagai macam  problematika IADI dalam rubrik IADI-NA. Masih seputar almamater, rubrik opini membahas bagaimana almamater saling menjaga silaturahmi, pembaca juga akan mendapati rubrik ke-Azhar-an yang membahas modernisasi kurikulum pendidikan al-Azhar, dan rubrik-rubrik menarik lainnya yang akan menyapa pembaca.

Semoga dengan hadirnya kembali Buletin Addariah ini, mampu mengobati rindu para pembaca setelah sekian lama hilang. Dan semoga, Buletin Addariah bisa terus istiqomah hadir kedepannya, serta memberikan manfaat dan motivasi bagi kawan-kawan untuk terus menulis terkhusus bagi  anggota/i IADI.

Selamat Membaca!

Apakah Kuantitas IADI, Sejalan dengan kualitasnya?

 


Dalam sesi wawancara bersama kru Addariyah, Azhar Syauqi RM Saeed selaku ketua IADI Mesir menuturkan bahwa dengan dibentuknya BO BKA (Badan Koordinasi Almamater) ini menjadi bukti bahwa KKS selaku dari kekeluargaan merangkul almamater yang ada di bagiannya dengan baik.


Dengan bertambahnya almamater di masisir ini apakah semakin baik?

Perlu diketahui bahwa almamater merupakan suatu wadah untuk menjalin silaturahmi, tempat kumpul masisir yang ketika di Indonesia berasal dari satu pondok yang sama, atau dari satu lembaga yang sama. Jadi, semakin banyak almamater maka semakin baik pula mengingat kita sedang berada di tanah rantau. Bahkan banyak almamater di masisir yang tidak terdaftar di PPMI.


Melihat dari internal IADI sendiri, semakin bertambahnya anggota, apakah kuantitas sejalan dengan kualitas warga IADI itu sendiri?

Sebenarnya, sebuah tantangan untuk IADI sendiri karena jumlah anggota dari tahun ke tahun semakin banyak. Tentunya harapan kita sebagai pengurus, agar anggota-anggoti itu bisa sadar dengan identitasnya sebagai warga IADI sendiri. Jika mau ditinjau dari segi kualitas, sejauh apa kita menilai kualitas seseorang. Karena semakin bertambahnya anggota pasti ada saja regenerasi dari tahun ke tahun.


Reporter: Mugni Maulidia.S


Bangku Perkuliahan Al-Azhar Sepi?

 

Al-Azhar University

Oleh: Muhammad Adam Nur

Universitas Al-Azhar merupakan salah satu Universitas ternama dan terpandang di dunia. Bagaimana tidak? Lembaga pendidikan yang telah berumur 1052 tahun ini sukses menjadi Universitas Islam yang paling konsisten melahirkan ulama-ulama besar di berbagai penjuru dunia dalam berbagai disiplin ilmu agama. Dengan segala pencapaian ini, maka bukan hal yang mengherankan lagi bila Al-Azhar sebagai pilihan untuk melanjutkan jenjang sarjananya. Dilansir dari website goodstats.id bahwa Universitas Al-Azhar Mesir berada diurutan ke-3 Universitas dengan jumlah mahasiswa terbanyak di dunia dengan total 425 ribu pelajar dari seluruh penjuru dunia.

Melihat dari fenomena ini, hal pertama yang tergambar adalah kondisi kampus yang sesak tiap harinya, ruangan kelas yang senantiasa penuh, namun benarkah demikian? Nyatanya realita yang terjadi di lapangan berbeda 180 derajat. Suasana kampus yang terbilang sepi dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang ada, ruangan kelas yang sepi, dan bangku-bangku yang kosong tak berpenghuni. Ya, memang terdengar aneh, akan tetapi inilah fakta yang tidak bisa dimungkiri.

Lewat tulisan ini, penulis mengajak pembaca untuk bersama-sama merenungi dan menganalisa penyebab fenomena ini terjadi.

 

Tidak Ada Absensi

Di antara ciri khas belajar di Al-Azhar adalah tidak adanya absensi dari pihak Al-Azhar sendiri yang membuat para mahasiswanya bebas untuk memilih hadir di kelas ataupun tidak. Akan tetapi, seakan ini merupakan nasihat tersirat untuk kita bahwa belajar di Al-Azhar tidak hanya berpegang pada kecerdasan tapi juga pada kesadaran. Kebijakan ini pun juga menggiring kita pada dua kemungkinan; pertama, banyaknya mahasiswa di Al-Azhar yang meyebabkan absensi ditiadakan. Kedua, tidak adanya absensi membuat para mahasiswanya banyak yang tidak hadir di kuliah.

 

Banyaknya Talaqqi

Metode pendidikan di Al-Azhar yag terkenal dan senantiasa menjadi pegangan adalah metode “Jami’ (Masjid) dan Jamiah (Universitas)” yang memadukan antara pendidikan akademik dan non akademik. Dengan metode ini, Al-Azhar sukses membetuk alumni yang intelektualis dan karismatik. Banyaknya tempat dan padatnya jadwal talaqqi ini mungkin menjadi salah satu alasan berpalingnya sebagian pelajar dari hadirnya ke kuliah.


 

Kurangnya Penguasaan Bahasa

Bahasa memang seringkali menjadi kendala bagi para anak rantau yang menuntut ilmu di negeri orang. Itulah juga yang dirasakan sebagian besar pelajar asing di Al-Azhar atau yang akrab disebut wafidin. Terlebih lagi kalau dosen yang mengajar tidak menggunakan bahasa arab fushah (baku) yang menyebabkan ilmu yang disampaikan tidak sepenuhnya ditangkap oleh mahasiswa, sehingga banyak yang memilih tidak hadir.

Bersikap dari faktor-faktor di atas yang sebenarnya tidak mutlak bisa dikatakan penyebab menurunnya minat hadir para pelajar. Contohnya saja masalah absensi yang sebenarnya sama sekali bukan penghambat bagi penuntut ilmu yang benar-benar ikhlas. Adapun talaqqi yang tersebar luas, sebenarnya difungsikan sebagai penunjang dalam menuntut ilmu di Mesir bukannya dijadikan alasan untuk tidak hadir di kuliah. Menoleh ke masalah bahasa, yah memang inilah yang merupakan kendala terbesar mayoritas pelajar asing. Tapi apakah kita hanya dituntut untuk pasrah tanpa usaha? Tentu saja tidak, bahkan bila kita sadar akan kekurangan kemampuan bahasa kita seharusnya itu dijadikan sebagai cambukan untuk lebih giat untuk hadir di kuliah untuk membiasakan telinga kita mendengar dan mencerna maklumat yang disampaikan dosen dalam bahasa arab.

Yah, ini hanya sebagian kecil dari banyaknya alasan yang muncul dikalangan mahasiswa. Kita belum berbicara tentang kesibukan organisasi, komiunitas-komunitas, kesibukan bisnis dan lain-lain.

Dan muara dari semua itu adalah instropeksi diri masing-masing, mulai  untuk menyadari diri untuk menyadarkan diri untuk kembali ke garis lurus tujuan awal kita kesini. Teringat pesan salah  seorang guru kami yang mengatakan: “Perhatikan skala prioritas, perhatikan mana yang paling penting, yang penting, dan kurang penting. Kalian ke Mesir tentu saja yang paling penting adalah kuliah, kemudian penunjangnya seperti talaqqi, dan pengembangan diri seperti organisasi”.


Galeri Kegiatan IADI Mesir 2022-2023

Haul Anregurutta Ambo Dalle ke-26



Penyerahan Takrim untuk Anggota/i IADI Mesir


Maulid Nabi Bersama: Syekh Mahmud Majdi




Bina  Akrab Anggota/i  baru  IADI Mesir


IADI Visual Academy



IADI CUP 2022


Tongkrongan Addariah




Modernisasi Kurikulum Pendidikan Al-Azhar

 

Masjid Al-Azhar

Oleh: Muhammad Alim Nur

Kurikulum memiliki peran penting demi menciptakan generasi muda yang cerdas, berkompetensi, berkarakter, berakhlak, dan menciptakan ide-ide baru, dan dapat bertanggung jawab. Dengan adanya kurikulum yang baru dan terdapat pembaharuan ke arah yang positif dan efisien, tentunya akan menciptakan pembelajaran yang dapat mencapai tujuan bersama.

Kurikulum adalah seperangkat gagasan-gagasan baru yang dirancang secara bersama dengan memikirkan kekurangan serta kelebihannya secara matang, sehingga dapat menjadi suatu konsep yang tepat yang dapat digunakan pada proses pendidikan.

Begitulah yang terjadi di Mesir ketika pasukan Prancis datang ke Mesir. Pembaharuan dan modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari datangnya Napoleon Bonaparte di Alexandria, Mesir pada tanggal 2 Juli 1798 M, sepuluh tahun setelah Revolusi Prancis. Tujuan utamanya adalah menguasai daerah Timur, terutama India. Napoleon Bonaparte menjadikan Mesir, hanya sebagai batu loncatan saja untuk menguasai India, yang pada waktu itu dibawah pengaruh kekuasaan kolonial Inggris. Kedatangan Napoleon ke Mesir tidak hanya dengan pasukan perang, tetapi juga dengan membawa 167 orang di antaranya pakar ilmu pengetahuan, 2 set percetakan dengan huruf latin; Arab, Yunani, peralatan eksperimen; teleskop, mikroskop, kamera, serta 1000 orang sipil; 500 laki-laki dan 500 perempuan.

Tidak hanya itu, Napoleon pun mendirikan lembaga ilmiah bernama Institut d’Egypte, pembangunan yang mengenalkan sejarah dan ilmu pengetahuan modern terhadap Mesir pada Eropa modern melalui karya yang mereka tulis. Ilmu-ilmu yang terdiri dari empat elemen, yaitu: ilmu alam, ilmu pasti, ekonomi dan politik, serta ilmu sastra dan kesenian. Lembaga ini bertugas memberikan masukan bagi Napoleon dalam memerintah Mesir. Lembaga ini terbuka untuk umum terutama cendekiawan Islam.

Masuknya pasukan Prancis ke Mesir adalah momen pertama kali ilmuwan Islam berinteraksi langsung dengan peradaban Eropa. Perpustakaan yang dibangun oleh Napoleon sangat menakjubkan karena Islam direpresentasikan dalam berbagai bahasa dunia. Untuk memenuhi kebutuhan ekspedisinya, Napoleon berusaha keras mengenalkan teknologi dan pemikiran modern kepada Mesir serta menggali Sumber Daya Manusia (SDM) Mesir dengan cara mengalihkan budaya Perancis kepada masyarakat setempat. Sehingga dalam waktu yang tidak lama, banyak di antara cendekiawan Mesir belajar tentang perpajakan, pertanian, kesehatan, administrasi, dan arkeologi.

Dengan berbagai kemajuan yang dialami oleh bangsa-bangsa Eropa, sehingga kedatangan Napoleon Bonaparte ke Mesir membawa dampak kepada pola pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi kepada pola pendidikan modern di al-Azhar.

Pendudukan Napoleon di Mesir, ternyata menyadarkan umat Islam pada masa itu akan ketertinggalannya dengan negara-negara Eropa, sehingga memicu intelektual-intelektual Muslim untuk melakukan pembaharuan demi mengejar ketertinggalan dari bangsa Barat. Salah satunya adalah Muhammad Abduh.

Di antara sekian banyak tokoh pembaru Islam, Muhammad Abduh (1849-1905 M) adalah salah satu tokoh monumental yang sangat bersemangat melakukan pembaruan bagi dunia Islam, terutama di bidang pendidikan dan intelektual. Muhammad Abduh sebagai tokoh pembaruan dalam Islam patut dikenang, diteladani, dan direkonstruksi pemikirannya karena beliau telah banyak berjuang untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang sebelumnya bersifat statis menjadi lebih dinamis.

Muhammad Abduh adalah sosok yang memiliki pengaruh besar dalam membawa era baru bagi al-Azhar. Abduh tidak hanya melakukan reformasi secara kelembagaan saja, akan tetapi juga reformasi pemikiran keagamaan.

Perjuangan Muhammad Abduh dalam mereformasi sistem pendidikan di al-Azhar bukanlah hal yang mudah untuk direalisasikan karena banyaknya ulama konservatif di kampus al-Azhar yang menentang mati-matian usaha pembaruan yang ingin dilakukan Muhammad Abduh. Usaha awal reformasi sistem pendidikan al-Azhar yang dilakukan oleh Muhammad Abduh adalah memperjuangkan mata kuliah yang dianggap sebagai barang haram oleh para ulama al-Azhar, yaitu mata kuliah filsafat dan mantik untuk diajarkan di al-Azhar. Muhammad Abduh berharap dengan mempelajari kedua ilmu tersebut, semangat intelektualisme Islam yang padam diharapkan dapat kembali bersinar.

Selanjutnya, Muhammad Abduh menyampaikan lima misi reformasi al-Azhar yang dilakukan dengan kerja sama Syaikh Hassunah al-Nawawi selaku Grand Syaikh al-Azhar pada masa itu.

Pertama, mengubah sistem halaqah menjadi sistem kelas yang terjadwal. Langkah ini penting untuk dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas para mahasiswa, karena sistem kelas ini terbukti sebagai salah satu sistem terbaik.

Kedua, melaksanakan ujian rutin untuk mengukur kemampuan akademis mahasiswa yang mencakup pemahaman dan kemampuan hafalan, mengingat sebelumnya memang belum ada sistem ujian rutin yang dilakukan untuk mengukur kemampuan mahasiswa kecuali hanya sekedar pengecekan hafalan.

Ketiga, menggunakan buku-buku primer yang dikarang oleh ulama yang memiliki otoritas di dalamnya, bukan menggunakan buku-buku sekunder (sharh) yang dikarang oleh sebagian guru. Hal ini dimaksudkan agar materi yang sampai kepada pelajar merupakan sebuah pemikiran yang sesuai dengan sumber asli.

Keempat, memperkaya kurikulum dengan materi-materi baru, bahkan hal-hal yang tidak ada dalam khazanah keilmuan al-Azhar termasuk ilmu-ilmu pengetahuan modern dan sains seperti etika, sejarah, geografi, ilmu matematika, aljabar, ilmu ukur, dan ilmu bumi.

Kelima, pengembangan perpustakaan dengan memperkaya koleksi literatur perpustakaan, sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan buku-buku tersebut dengan baik dan pengetahuan mereka pun semakin kaya.

Kelima misi tersebut berhasil direalisasikan dengan kerja sama yang baik antara Muhammad Abduh dan para ulama al-Azhar, terutama dengan Grand Syaikh al-Azhar, Syaikh Hassunah al-Nawawi. Majlis al-Idarah atau Dewan Administratif adalah lembaga yang didirikan untuk merealisasikan misi tersebut.

Tidak hanya sebatas itu, Muhammad Abduh juga mengajak orang kaya agar membangun madrasah dan ruang sekolah untuk memperhatikan dan menyiarkan pendidikan serta memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan.

Dari sini kita dapat melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Muhammad Abduh untuk memperbaharui sistem pendidikan di al-Azhar merupakan langkah yang tepat dan strategis, sebab selain Universitas al-Azhar sebagai universitas yang sangat dihargai oleh dunia Islam internasional, juga karena banyak mahasiswa dari berbagai penjuru dunia datang belajar ke al-Azhar. Dengan begitu, maka alumni al-Azhar bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia dengan membawa ide-ide pembaruan demi kemajuan dan kepentingan masa depan.

Romantisasi Masa Lampau



Oleh: Andi Muhammad Akram Ibrahim

Tidak ada yang setua dan serenta

peradaban Abbasiyah.

Tidak ada yang secemerlang

pemikiran Andalusia.

Tidak ada yang sesubur Baitul Hikmah

dalam melahirkan anak-anak emas.

Masihkah ada?

Masihkah sadar?

Masihkah kita terjebak menatap

nanar-nanar sejarah?

Masihkah kita menetap

terkungkung dalam kisah romantis

masa lampau?

Latar yang terukir

Penulis-penulis barat yang kikir

Kejam menyembunyikan

Meracik

Meracuni

Membungkam fakta

Melepaskan fiktif

Menjadi penyintas

Bahkan sedikitpun tidak

menyisahkan bekas anak-anak sejarah

Bagaimana kabar kejayaanmu yang dijarah?

Apakah kau mau biarkan punah?

Apakah kau biarkan begitu saja?

Anak-anak sejarah

Sadar!

Apakah kau ingin perpustakaan

cordoba-cordoba lain terbakar?

Apakah kau ingin pemikiran-pemikiran Islam lainnya

ditanggalkan, dilucuti, tinggal nama?

Anak-anak sejarah sadar!


“Banyak” Tak Menjamin Ramai

 

Foto Dokumentasi Nadwah

Oleh: Fahri Syahrial

Sore itu, selepas menunaikan salat asar. Aku bergegas dengan setelan yang rapi menuruni anak tangga imarahku menuju Sekretariat IADI Mesir untuk mengikuti acara pekanannya yaitu Nadwah. Langit Mesir yang cerah mengiringi langkahku, suara anak kecil saling bersahutan, diikuti dengan angin berhembus pelan nan sejuk. Jalanan ramai oleh lalu lalang para penduduk setempat dengan berbagai kesibukan, suara tuk-tuk (kendaraan bernama bajai) juga tak kalah ramai menghiasi telinga.

 

Tak sengaja, di pertengahan jalan aku bertemu dengan seorang teman, “mau ke mana, bro?” Sapanya dengan senyum akrab. “Ke sekret”, kataku. “Ada acara?” Tanyanya lagi. “Nadwah”, jawabku singkat. “Apa menunya nanti?” Katanya dengan penasaran. “Jangan karena menunya saja yang enak,  baru datangki ke sekret, bro!” Jawabku seraya pergi meninggalkannya.

“Mungkin saja, sekret sedang merindu kepada para petualang ilmu yang akan memenuhi setiap sudut ruangnya, akan suara-suara yang saling melempar argumen, canda-tawa, maupun riuh karena sekali-kali tepuk tangan mereka”, pikirku seraya melanjutkan jalan.

 

Setiba di sekret IADI di lantai empat, beberapa teman, senior dan penasihat IADI telah hadir meramaikan Nadwah. Namun, tidak membuat sekret sesak oleh mereka yang hadir, tak seperti biasa, Nadwah akhir-akhir ini sepi oleh para audiens. Padahal tahun demi tahun generasi semakin bertambah, tapi yang meramaikan Nadwah itu-itu saja, tak berubah. Mungkin mereka sedang asyik dengan tongkrongannya yang lain, atau mungkin makanan Nadwah yang kurang menarik bagi mereka?

 

Nadwah dimulai dengan berbagai rangkaian acara, dari MC yang membuka acara dan mempersilahkan kepada moderator sebagai  pemimpin Nadwah sekaligus mempersilahkan kepada narasumber untuk menyampaikan materinya, dengan waktu yang sudah ditetapkan. Setelah pemaparan materi, Nadwah kembali ramai dengan berbagai pertanyaan, sanggahan, maupun tanggapan dari para audiens yang sekali-kali di tengahi oleh moderator atau para penasihat. Tak kadang pertanyaan mengakar jauh keluar dari materi.

 

Sebelum Nadwah ditutup, pemateri menyampaikan pesan dan kesan serta kesulitan yang dialami sebelum dan selama membawakan Nadwah, juga wejangan dari para penasihat yang hadir sekaligus menutup Nadwah  dengan doa. Pertemuan hangat itu berakhir dengan jamuan buka puasa bersama selama bulan suci Ramadan. (Diluar bulan suci Ramadan Nadwah kembali dimulai setelah salat magrib).

 

Sekret tidak hanya menjadi tempat kita singgah sesaat yang setelah acara atau kegiatan selesai, kita juga beranjak pergi, seakan sekret menjadi tempat yang asing bagi kita. Lebih dari itu, sekret menjadi Pelabuhan tempat kita berlabuh, berkumpul, dan bersua kembali melepas rindu, merasakan hangatnya kekeluargaan di tempat perantauan. Makanan hanya pemanis, tetapi yang terpenting adalah kita saling bertatap muka, dan saling  berbagi cerita.

 

Bersama “Kita” untuk selalu meramaikan Nadwah. Kalau bukan kita, siapa lagi? Sebagaimana perkataan yang turun-temurun dari para pendahulu kita, yang mungkin tak lagi asing di telinga bahwa: “Beruntunglah orang-orang yang belajar di Al-Azhar, dan lebih beruntung lagi yang hadir di Nadwah IADI Mesir”.


Ikhlas ala Anregurutta Ambo Dalle

 

Anregurutta K.H Abdurrahman Ambo Dalle

Oleh: Muhammad Alim Nur

Kepemimpinan dan perjuangan Gurutta dalam menegakkan syiar Islam membuat dirinya begitu disegani oleh umat Muslim, sehingga Gurutta membangun dan mengelola Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) dan Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) mengacu pada realitas sosial budaya masyarakat. Karena masyarakat berhadapan dengan masalah moral, maka Gurutta lebih fokus pada pengajaran akhlak berdasarkam Al- Quran. Selain Al- Quran sebagai referensi utama, diajarkan juga tafsir, hadis, tauhid, fikih, ushul fikih dan sejarah Islam. Anregurutta berhasil memimpin pesantren dengan prinsip melaksanakan pembaruan nilai Islam dengan tidak meninggalkan khazanah budaya Bugis. Diarena kultur dan tradisi Bugis, Anregurutta bisa menerjemahkan agama Islam secara pas dengan memunculkan simbol baru yang diterima semua kalangan.

Salah satu yang membuat saya kagum tentang Gurutta Ambo Dalle adalah saat beliau diculik oleh DI/TII oleh pasukan Kahar Muzakar. Dari semua daerah dilalui saat pengejaran oleh tentara, beliau masih sempatkan untuk mengajar para pasukan dan masyarakat setempat.  Keterbelakangan pendidikan yang ada dipelosok membuat Gurutta merasa terpanggil untuk mengambil bagian demi memajukan intelektual zaman itu. Kualitas pendidikan saat itu sangat kurang bahkan tidak ada disebabkan oleh daerah tersebut yang sangat terpencil dan tidak mudah untuk dijangkau. Duduk di bawah pohon sambil mengajar adalah metode paling keren dalam mengajar ala Anregurutta.

Anregurutta mengajar semata-mata mengharapkan imbalan dari Allah SWT, dan yang terpenting adalah beliau mengajar dengan ikhlas yang menyadarkan kita bahwa sebagai khalifah muka bumi yang dipilih oleh Allah SWT untuk mentransfer ilmu kepada orang lain.

Zaman materialistis sekarang ini telah menghipnotis kita bahwa sesuatu itu harus dengan adanya imbalan, bahwa sesuatu itu harus ada uang. Apakah masih ada orang yang mengajar dan dia rela tidak dibayar? Mungkin saja ada. Tapi seberapa sanggup dia bertahan untuk tidak dibayar? Mengajar itu adalah khidmah.

Sebagai sosok yang memiliki karisma, Anregurutta dipandang memiliki kemampuan luar biasa untuk menggerakkan masyarakat. Dengan sikap yang sederhana beliau mampu memberikan petuah, nasihat, dan ilmu budi pekerti luhur.


Bagaimana Almamater Di Kalangan Masisir Saling Menjaga Silaturahminya?

 



Oleh: Try Hamdani Hamid

Almamater dikalangan masisir merupakan salah satu wadah perkumpulan mahasiswa/i yang memiliki latar belakang sekolah yang sama atau berasal dari pondok pesantren yang sama. Ada IKPM untuk alumni Gontor, Ikadaqu untuk alumni Daarul Qur’an, IKPDN untuk alumni Darunnajah, dan masih banyak lagi almamater-almamater di masisir, baik itu pondok pesantren yang ada di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Adapun untuk pondok pesantren yang ada di Sulawesi, seperti IADI untuk alumni DDI, IKA Al-Ikhlas untuk alumni ponpes Al-Ikhlas, IKAKAS untuk alumni As’adiyah, FK Baiquni untuk alumni MANPK Makassar, dan HIKMAT untuk alumni AlKhairat, Palu.

Banyaknya almamater yang ada di masisir, membuat dinamika keorganisasian di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir semakin berwarna. Di dalam struktural keorganisasian KKS Mesir sendiri, ada salah satu Badan Otonom (BO) khusus yang bertugas untuk mengatur koordinasi antar almamater yang berada dibawah naungan KKS (secara kultural). BO ini menjadi salah satu media silaturahmi yang dihadirkan oleh KKS Mesir untuk menjaga hubungan antar sesama almamater yang pondoknya berada di Kawasan Indonesia Timur, khususnya Sulawesi. Salah satu kegiatan yang pernah diadakan oleh BO ini adalah diskusi panel antar almamater se-KKS yang pada saat itu diketuai oleh kakanda Fikrul Khalis Ukkas (Punggawa KKS Mesir 2022-2023).

Bidang akademik memang menjadi media yang cukup efektif untuk menjalin hubungan antar almamater. Salah satu bentuk kegiatan yang saya tawarkan sebagai penulis adalah mengadakan kunjungan ke forum-forum diskusi yang diadakan oleh sebuah almamater. Sehingga almamater tamu bisa mengenal corak dari forum diskusi yang diadakan oleh almamater tuan rumah. Sebagai contoh, pengurus IADI Mesir hadir diforum diskusi fakultatif yang diadakan oleh IKA Al-Ikhlas, atau pengurus FK. Baiquni ikut dalam forum Nadwah yang diadakan oleh IADI Mesir.

Selain bidang akademik, bidang olahraga juga bisa menjadi salah satu media silaturahmi yang efektif bagi almamater. Banyak kegiatan-kegiatan olahraga yang pesertanya ditujukan kepada almamater-almamater semasisir. Seperti IADI Cup yang diadakan oleh IADI Mesir, IKAKAS Cup yang diadakan oleh IKAKAS Mesir, IKBAL Champions Cup yang diadakan oleh IKBAL Kairo, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan olahraga yang melibatkan banyak almamater di masisir.

Dalam bidang olahraga, selain event-event besar, pertandingan persahabatan pekanan antar almamater juga menjadi wadah silaturahmi, yang tentunya tidak membutuhkan biaya yang sebesar event-event di atas. Pertandingan persahabatan ini juga bisa disajikan seperti pertandingan-pertandingan persahabatan pada umumnya, yaitu dengan saling tukar cenderamata ketika di lapangan, baik itu berupa logo almamater ataupun barang lainnya yang menggambarkan identitas dari almamater tersebut.

Selain kegiatan-kegiatan yang saya tulis di atas, masih banyak lagi wadah-wadah yang bisa menjalin silaturahmi antar almamater, seperti Visual Academy yang diadakan oleh IADI Mesir yang pesertanya berasal tidak hanya dari IADI sendiri, tapi juga dari almamater selain IADI. Saya harap kegiatan-kegiatan seperti ini tetap diadakan yaitu dengan melibatkan anggota-anggota dari almamater luar, terlepas dari apa pun corak kegiatannya. Yang terpenting adalah setiap almamater harus lebih terbuka agar selalu terjalin sebuah silaturahmi dengan almamater yang lain.


Prof. Dr. Huzaemah Tauhid Yanggo: Peraih Gelar Dukturoh Pertama di Universitas Al-Azhar.

Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo

 

Oleh: Fahri Syahrial

Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo adalah sosok teladan perempuan hebat yang pernah dimiliki Indonesia. Seorang ulama. Dia adalah seorang pakar fikih, (ahli perbandingan mazhab). Beliau juga merupakan perempuan pertama berkebangsaan Indonesia yang memperoleh gelar doktor dari Universitas Al-Azhar, Mesir, pada tahun 1984 dengan predikat cumlaude. Perempuan kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 30 Desember 1946.

Sebelum menuntut ilmu di Al-Azhar, beliau menempuh pendidikan dasar hingga perguruan tinggi di Pesantren Al-Khairat, salah satu lembaga pendidikan yang berada di Palu, Sulawesi Tengah. Pada tahun 1975, beliau meraih gelar sarjana muda dari Fakultas Syariah Universitas Islam Al-Khairat.

Selang beberapa tahun setelahnya, beliau melanjutkan studi magisternya di Universitas Al-Azhar Mesir. Pada tahun 1981, beliau berhasil meraih gelar magister ilmu ushul fikih dengan predikat cumlaude. Tiga tahun setelahnya, yakni tahun 1984, beliau meraih gelar doktor dalam fikih perbandingan mazhab dengan predikat yang sama.

Setelah menyelesaikan studi di Mesir, beliau kembali ke Indonesia dan ikut serta mewarnai pelbagai forum diskusi kajian Islam di Indonesia. Pada tahun 1987 beliau menjabat sebagai Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat. Di tahun 1997, beliau menjadi Anggota Dewan Syariah Nasional MUI pada tahun 2000, beliau menjabat sebagai Ketua MUI Pusat Bidang Pengajian dan Pengembangan Sosial.  Beliau juga merupakan sosok yang aktif dalam dunia organisasi perempuan. Salah satu kiprah beliau ialah menjadi Ketua Pengurus Besar Persatuan Wanita Islam Al-Khairat Pusat di Palu-Sulawesi Tengah (sejak 1996), Ketua Pusat Studi Wanita IAIN Jakarta (1994-1998), serta menjadi narasumber dalam berbagai seminar yang membahas tentang perempuan.

Beliau juga merupakan sosok yang aktif dalam menulis, mengajar, dan berkegiatan di pelbagai lembaga sosial keagamaan, seperti MUI maupun Muslimat Nahdlatul Ulama. Terakhir, beliau diamanahi menjadi Rektor Institut Ilmu al-Quran (IIQ). Tapi, dari segudang kegiatan tersebut, di rumah beliau tetap menjadi seorang ibu rumah tangga. Beliau mendorong perempuan untuk berperan di ruang publik, yang beliau contohkan sendiri dengan baik, akan tetapi jangan sampai melupakan keluarga di rumah.

Persoalan mengenai perempuan tidak akan ada habisnya, baik perempuan dijadikan objek ataupun subjek. Realitasnya, perempuan selama ini hanya dijadikan objek “eksploitasi” dari aspek ekonomi, politik, biologis, keagamaan, dan sebagainya. Islam hadir untuk mengangkat derajat kaum perempuan, menempatkan perempuan pada posisi yang sama dengan laki-laki. Prof. Huzaemah adalah seorang tokoh yang memberikan ruang terhadap perempuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Kemampuannya menelusuri nash-nash tentang perempuan, dan meluruskan penafsiran klasik yang terbukti tidak objektif karena terkontaminasi oleh kondisi sosial budaya yang didominasi oleh peran laki-laki.

Dalam Islam tugas alamiah seorang perempuan adalah melahirkan, menyusui, dan merawat anak. Namun seorang perempuan dibolehkan berkarier dengan syarat dirinya tetap mengikuti aturan yang telah ditetapkan di dalam Islam untuk keselamatan dan ketentraman hidupnya. “Bahwa seorang perempuan yang memiliki karier harus bisa bertanggung jawab terhadap kewajibannya di dalam maupun di luar rumah. Serta pekerjaan atau karier yang diamanatkan harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan karier tersebut tidak menimbulkan kemudharatan terhadap dirinya".

Demikian pendapat Prof. Huzaemah tentang peran perempuan karir dalam Islam. Berkat dorongan beliau, saat ini tentu ada banyak sekali murid perempuannya yang berkiprah di dunia profesional dan mengabdi ke masyarakat. Tak bisa dimungkiri, pengaruh beliau sangat kuat dalam isu ini.

Prestasi

Sejak duduk di bangku madrasah, Prof. Huzaemah telah menunjukkan kecerdasan dan kecemerlangan ilmunya. Tak ayal, ia berhasil meraih berbagai penghargaan, di antaranya Bintang Pelajar PB Al-khairat dan lulusan terbaik IV Madrasah Al-Khairat Palu Sulawesi Tengah tahun 1962.

Pada 1999, Prof. Huzaemah mendapatkan jasa prestasi “Kepemimpinan dan Manajemen Peningkatan Peranan Wanita RI” dari Menteri Negara Peranan Wanita RI. Kemudian tahun 2007, ahli fikih ini meraih award dari Eramuslim Global Media atas kepedulian terhadap Ilmu Syariah sebagai pakar fikih perempuan.”

Demikian pula beragam penghargaan lainnya seperti “Setya Lencana Wira Karya” dari Presiden RI tahun 2007 atas jasa sebagai Tim Penyempurnaan Tafsir Al-Quran Departemen Agama RI, “Woman UIN Award atas dedikasi, inovasi dan prestasinya dalam mewujudkan hak-hak perempuan dan anak dari rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2015, penghargaan “Top Eksekutif Muslimah Bidang Pendidikan” dari IPEMI dan Majalah Ibadah, tahun 2016, “Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun” dari presiden RI tahun 1997,” dan lain sebagainya.

Pendidik dan ulama perempuan yang disegani

Prof. Huzaemah mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Di usia senjanya, beliau masih terus aktif mengajar dan menyebarkan ilmu. Bahkan saat menghembuskan nafas terakhir, masih menjabat sebagai rektor Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta periode 2018-2022, ia juga masih terdaftar sebagai guru besar Fakultas Syariah dan pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta dosen Universitas Muhammadiyah dan Universitas Indonesia.

Prof. Huzaemah juga pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Perbandingan Mazhab Hukum (PMH) UIN Syarif Hidayatullah tahun 1988-2002, Pudek I Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta tahun 2002-2006, Ketua Umum PSW UIN Syarif Hidayatullah tahun 1994-1998, Direktur Program Pascasarjana Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta tahun 1998-2014.

Kepribadiannya yang tegas membuatnya disegani masyarakat dari berbagai kalangan. Karena kedalaman dan kecemerlangan ilmunya, ulama perempuan Indonesia ini telah menjadi anggota Komisi Fatwa MUI sejak tahun 1997 hingga kemudian diangkat sebagai Ketua MUI Bidang Fatwa periode 2015-2020. Sebelumnya, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MUI Bidang Penelitian dan Pengkajian tahun 2000-2010.

Karya Tulis

Semasa hidupnya, Huzaemah tak hanya aktif mengajar, ia juga banyak melahirkan karya-karya tulis seputar fikih, beberapa di antaranya: Pandangan Islam tentang Gender, Pengantar Perbandingan Mazhab, Konsep Wanita dalam Pandangan Islam, Fiqih Perempuan Kontemporer, Masail Fiqhiyah; Kajian Fikih Kontemporer, Fikih Anak; Metode Islam dalam Mengasuh dan Mendidik Anak serta Hukum-hukum yang Berkaitan dengan Aktivitas Anak.

Inilah karyanya yang banyak menginspirasi banyak kaum perempuan untuk menjadi teladan bagi generasi selanjutnya. 

Meninggal dunia di usia 74 tahun

Prof. Huzaemah memiliki karier dan pencapaian yang sangat gemilang semasa hidupnya, termasuk sosok penting dalam pembahasan berbagai fatwa MUI terkait penanggulangan wabah COVID-19.

Beliau wafat pada hari Jumat, 23 Juli 2021. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman UIN Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan.

Semoga dengan semangat yang tadinya mulai redup, harapan yang tadinya mulai pudar dipudarkan oleh usaha yang tak kunjung menuai. Semoga dengan membaca dan menelaah kisah perjalanan hidup beliau yang penuh inspirasi, semangat kembali terang dan harapan tertata kembali meneruskan semangat serta perjuangan beliau dalam menuntut ilmu dan menyebarluaskannya. Aamiin.  


 
Copyright © 2014 Addariah. Designed by OddThemes