BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Buletin 60. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buletin 60. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 November 2023

Titisan Pena Anregurutta tentang Pemali

 


Judul Buku: Pengobat Hati dari Pemali  

Penulis: Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle 

Penerbit: Panitia Haul ke 18 AG. H. Abdurrahman Ambo Dalle dan Milad ke 76 Pontren DDI-AD MANGKOSO 

Tahun Terbit: 2014

Buku Pengobat hati dari Pemali, atau dalam bahasa Bugisnya Pabburana ati e pole ripemmali-pemmali e atau dalam bahasa Arabnya شفاء الأفئدة من التشائم والطيرة Adalah buku kecil yang mengandung manfaat yang besar, yang dikarang oleh Anregurutta Abdurrahman Ambo Dalle pada tahun 1360 H. Buku ini mengangkat permasalahan tentang Pemali yaitu keyakinan yang menyimpang dari keyakinan yang diajarkan oleh Rasulullah saw., yang diyakini oleh sebagian besar umat Islam dalam masyarakat Bugis pada waktu itu

Anregurutta Abdurrahman Ambo Dalle memulai bukunya dengan mengutarakan bagaimana keyakinan yang seharusnya diyakini oleh umat Islam, dan setelah itu Gurutta menyinggung keyakinan-keyakinan yang menyimpang dengannya, di antaranya: Pemali, inilah menjadi titik fokus Gurutta dalam buku ini.

Buku ini memiliki alur yang sistematis dan terstruktur; sehingga dapat memudahkan pembaca dalam memahami apa yang ingin disampaikan Gurutta, Setelah Gurutta membukanya dengan pendahuluan, Gurutta mulai menjelaskan definisi dan contoh dari keyakinan yang menyimpang (Pemali), dan setelah itu Gurutta menjelaskan asal-usul dan sejarah dari Pemali ini. 

Termasuk satu hal yang menarik dalam buku ini Gurutta dalam menyadarkan masyarakat, Gurutta memberikan peringatan akan bahaya yang ditimbulkan dari Pemali ini baik dalam urusan dunia begitupun dalam urusan akhirat, dan Gurutta memberikan contoh kasus yang relevan dengan zaman itu dengan menggunakan logika sederhana yang mudah dipahami oleh masyarakat level apa pun. 

Selanjutnya, Gurutta menjelaskan bahwa hukum dari Pemali adalah haram, sehingga jelaslah bagi pembaca posisi Pemali ini dalam agama Islam, dan dengan itu juga jelaslah bagi pembaca bahwa Pemali ini merupakan suatu hal yang buruk dengan ditopang dengan dalil dari Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah saw. Dan tak hanya itu, Gurutta tidak hanya mengkritik dan mengharamkan Pemali ini, ia juga memberikan jalan untuk keluar dari keyakinan Pemali ini, yang di mana ia mengacu pada apa cara yang Rasulullah saw. ajarkan.

 Setelah itu Gurutta memberikan solusi untuk menggantikan keyakinan Pemali ini yaitu dengan Sempena, sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah saw.; sehingga dengan itu, masyarakat yang dulunya memiliki Pemali yang kuat, mereka dapat menggantikannya dengan Sempena. Dan bisa kita katakan bahwa usaha dari Gurutta ini berhasil dengan melihat masyarakat Bugis sekarang, itu berpindah dari Pemali dan menggantikannya dengan Sempena; sehingga dalam setiap aspek dalam kehidupannya banyak terkandung Sempena di dalamnya.

Oleh: Muammar Ahmad 






Salam Redaksi

 


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hai, Sahabat Addariah! 

Alhamdulillah, rasa syukur kepada Allah swt. yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran sehingga Buletin Addariah edisi 60 kini telah terbit, hal ini juga kami mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan dan staf Addariah atas dedikasinya, beserta dukungan para penasehat hingga setiap elemen anggota IADI. Pada kali ini Addariah mengangkat tema “Haul Anregurutta; Merefleksikan dan Meneladani Keikhlasan Pengabdian Anregurutta”  


Seiring berjalannya waktu, peringatan Haul Anregurutta dari tahun ke tahun hingga saat ini, merupakan tanda cinta besar dan ketulusan hati seorang muridnya. Yang mana, di setiap momen itu mengingatkan kita bahwasanya perjuangan dan keikhlasan hati beliau dalam berdakwah memberi pengaruh yang luar biasa. Maka dari itu, edisi kali ini hadir menyapa pembaca dan menyuguhkan beberapa topik hangat seputar DDI. Rubrik Wawancara menjadi sorotan utama, pembaca akan menjumpai hiruk-pikuk Haul Anregurutta itu sendiri. Dilanjut dengan rubrik Ke-DDI-an, yang mana terdapat sejarah DDI dan filosofi logo DDI. Lanjut ke rubrik Ke-IADI-an dengan selayang pandangnya, dan beberapa rubrik-rubrik lainnya. 


Redaksi selalu mengharapkan masukan dan saran dari para pembaca mengenai isi Buletin Addariah ini untuk perbaikan pada edisi berikutnya. Harapan kami, semoga apa yang tersaji dalam edisi kali ini dapat bermanfaat bagi kita semua. 


Selamat membaca! 

Oleh: Muh Rayhan Nurkhalis 

 

Galeri Kegiatan

 

Kelas berita dan opini 

Afiliasi PCIM 

Afiliasi PCI PERSIS 

IADI Mappaccing 

Raker dan RAPBO 

Raker 

Nadwah

Rapat DP Infodak 

Evaluasi Bulanan DP 

Pelantikan DP IADI 

Rapat DP Olahraga dan Kesenian 

Rapat BPKI 

Family Gathering 

Family Gathering Fatayat 

Woman Talkshow 

Rekam jejak IADI 

Tongkrongan Addariah 

Selasa, 28 November 2023

Menghidupkan Anregurutta



27 tahun berlalu sejak Anregurutta sukses menyelesaikan amanah. Menorehkan tinta emas dalam catatan sejarah. Menjadi salah satu pionir termasyhur Nusantara dalam pendidikan juga dakwah. Pulang ke haribaan-Nya mewariskan semerbak karya untuk kita. 

  Anregurutta meninggalkan warisan dan karya tersebut bukan sebatas tuk dikenang dan diceritakan, tapi untuk dilanjutkan. Kini, karya-karya itu telah mengalami banyak revitalisasi (penghidupan kembali). Kitab-kitab diremajakan, karya seni dilestarikan. Begitu pun warisan terbesar beliau, Darud Da’wah wal Irsyad yang terus dijaga dan dikembangkan. 

  Namun tak sebatas itu, upaya menghidupkan Anregurutta juga bisa kita semua lakukan melalui diri masing-masing. Ajaran, karakter, dan prinsip yang membentuk pribadi beliaulah yang hendaknya para santri juga alumni abadikan melalui laku hidup sehari-hari.

 Beliau yang lahir sebagai anak tunggal dari keluarga bangsawan Wajo tidak lantas menjadikannya anak yang manja. Di usia yang masih belia, Ambo Dalle telah ditempa dengan penuh kedisiplinan dan kemandirian. Pagi bersekolah, sore dan malam lanjut mengaji. 

Namun tak hanya itu, Ia juga pribadi yang kreatif dan atletis yang terkenal akan keaktifannya di dunia seni dan olahraga, tidak membatasi diri hanya berkutat dengan kitab dan sekolah. Semasa muda Anregurutta diberi nickname “La Jonga” atau “Si Rusa” oleh kawan-kawannya karena kelincahan dan kecepatannya dalam memainkan sepak bola. Kreatifitas dan jiwa seninya tercermin melalui karangan lagu-lagu dan kasidah islami juga beragam kaligrafi yang Ia lukis, sembari tetap menulis banyak kitab dalam berbagai disiplin ilmu, dari Tauhid, Fikih, hingga Tasawuf. 

Sebagai guru dan dai, beliau dengan tulus lagi ikhlas mengabdikan dirinya demi pendidikan. Salah satunya tergambar ketika hidup berpindah-pindah bersama gerombolan DI/TII di pedalaman Sulawesi Selatan hingga Tenggara delapan tahun lamanya (1955–1963). Selama rentang waktu tersebut, Anregurutta bisa saja keluar meninggalkan hutan dan kembali ke kehidupan nyaman dan aman di kota tapi tidak Ia lakukan karena prihatin akan keadaan banyak masyarakat di sana yang belum tersentuh ajaran agama, lekat dengan animisme-dinamisme.

Tak berhenti sampai di situ, Beliau juga sosok dengan gairah patriot dan semangat kebangsaan yang membara. Anregurutta pernah menggubah lirik Indonesia Raya ke dalam bahasa Jepang untuk mengelabui penjajah Nippon waktu itu yang melarang penggunaan bahasa Indonesia, sehingga masyarakat dan para santri tetap bisa menggaungkan semangat kemerdekaan melalui lagu tersebut. Beliau juga kerap menerima kedatangan para pejuang dan mendoakan mereka sebelum berangkat ke medan laga. 

Dalam politik dan pemerintahan, Anregurutta tidak menutup diri bahkan secara pribadi pernah ikut serta menjadi anggota MPR di masa Orde Baru. Hal itu beliau lakukan semata-mata demi melindungi DDI dan para warganya dari opresi rezim yang gencar menangkap mereka yang dianggap tak sejalan dengan pemerintah saat itu.

Sebagai pribadi yang terbuka dan adaptif beliau tetaplah teguh dan tegas dalam berprinsip, yang salah satunya tergambar saat Ia pernah diasingkan oleh DI/TII karena keras melawan ajaran tanpa mazhab yang digaungkan oleh gerombolan tersebut. Itulah Anregurutta. Pinisi yang berlayar mengikuti arus namun tak hanyut, menghadapi ombak tapi tak karam. Era Feodal, Penjajahan, Kemerdekaan, Orde Lama, hingga Orde Baru beliau lewati dengan gagah namun dinamis.

Sikap, pandangan dan pribadi seperti inilah yang mesti dilestarikan pada diri kita masing-masing sebagai pewaris ajaran Anregurutta. Semangat serta karakter itu yang harus ditunjukkan oleh segenap santri, sehingga melalui kita, Anregurutta Ambo Dalle akan terus hadir dan hidup di manapun kita berada, kini hingga nanti. Abadi.

    Oleh: Alif Asyur Palallo 





Tidak Butuh Dalil Untuk Mencintai IADI Mesir


 Visi utama suatu Organisasi secara umum pastinya bagaimana organisasi tersebut bisa maju, aktif dan inovatif. Dan untuk mencapai tujuan itu harus berlandaskan kekompakan tim dan semangat pengabdian yang tinggi. Dinamis atau statisnya suatu organisasi tergantung pada peran anggotanya, hal inilah yang senantiasa diseimbangkan dan diupayakan stake holders (-red pengurus) di setiap masa jabatan. Problematika kemunculannya tak bisa kita predikisi, maka kita harus menjadi figur dengan kemeja lengan panjang tergulung yang selalu siap mengnyelesaikan setiap masalah.

Sejak terbentuk, Ikatan Aumni Darud Dakwah wal Irsyad Republik Arab Mesir (IADI MESIR) senantiasa hadir menebar manfaat dan konsisten melakukan kegiatan-kegiatan positif di lingkungan mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir), juga masih terus aktif dan berupaya mencetak SDM yang unggul. Melalui proses pengaderan yang masif, dengan pintu itu semangat pengabdian terus tumbuh dan tetap menancap di hati dewan pengurus. Hingga tiap tahunnya mereka senantiasa mengerahkan pikiran dan tenaga agar IADI Mesir tetap eksis dan terus diperhitungkan, serta ikut berkontribusi di setiap bidang.

Catatan Ringkas Sejarah IADI

Sejarah mencatat berbagai prestasi akademik dan non akademik berhasil ditorehkan oleh IADI Mesir. Pencapaian membanggakan yang cukup banyak dan deretan nama yang mengharumkan nama baik IADI baik yang masih berada di Mesir maupun yang sudah kembali ke tanah air berkarir dan menjadi orang-orang penting itu sudah tak terhitung jumlahnya hingga saat ini, yang kami kira tidak cukup tertuangkan hanya dalam satu rubrik ini.

Dengan nama yang sudah besar dan masyhur, banyak persitiwa-peristiwa penting yang terjadi sejak didirikannya hingga detik ini, maka dewan pengurus berinisiatif membukukan dan mengabadikan momen-momen bersejarah itu, yang sekarang digarap dan disusun oleh tim “Projek Rekam Jejak IADI Mesir”. Karena data dan informasi yang cukup banyak, proses penyusunan rekam jejak IADI butuh waktu yang tidak singkat untuk diselesaikan.

Dalam bidang akademik, tepat sepuluh tahun silam di tahun 2013 IADI Mesir berhasil meraih penghargaan almamater terbaik , karena banyaknya anggota IADI Mesir yang menyelesaikan program pasca sarjana dan program doktoral di Universitas AL-Azhar Asy-syarif dan Universitas lainnya yang ada di Kairo. Hal tersebut menjadi acuan bagi para generasi setelahnya untuk meniru jejak para pendahulu, terus melanjutkan kajian keilmuan sebagai penopang study teman-teman warga IADI, forum diskusi dan kajian IADI masyhur dengan nama “NADWAH”.

Konsistensi Nadwah

 Sejatinya IADI Mesir menyelenggarakan beberapa program kerja dari tiap Departemen dan Badan Otonom, seperti Bincang Santai Sastra Arab, Pelatihan Kepenulisan Karya Tulis Ilmiah, Sport Day, Women Talk Show dan kegiatan lainnya, namun Nadwah punya nilai tersendiri karena kegiatan inilah juga yang menjadi program pertama IADI, dan masih terus konsisten berjalan hingga sekarang.

 Salahsatu yang menjadikan suatu hal punya keberkahan dan nilai plus adalah karena istikamahnya. Maka tak heran, dari Rahim nadwah ini sudah begitu banyak orang-orang hebat yang lahir. Muncullah ungkapan senior yang mengatakan ; Nadwah adalah IADI, IADI adalah Nadwah.

 Pada awalnya kegiatan keilmuan IADI belum bernama Nadwah, karena kesan penamaan diskusi terlalu sempit, maka diinisiasilah nama Nadwah agar lebih modern dan lebih sistematis. Nadwah dalam Bahasa Indonesia adalah simposium yeng terdiri dari moderator, pemateri, notulen, partisipan dan sesi tanya-jawab. Nadwah terbagi menjadi tiga jenis: Nadwah Lughawiah yang berfokus dalam pengkajian gramatikal Bahasa arab. Nadwah Tafsiriah yang di dalamnya kita mengkaji ayat-ayat al-Quran al-Karim, dan yang terakhir ada Nadwah Ilmiah, dengan system presentasi makalah ilmiah yang berbahasa Indonesia.

Keaktifan Anggota

 Anggota-anggota IADI Mesir srtiap tahunnya menempati posisi dan peran vital dalam organisasi di kancah Masisir secara umum, dan lingkup KKS Mesir secara khusus. Hal Tersebut tidak terlepas dari peran anggota yang memiliki sifat yang terbuka dan mudah bergaul dengan mahasiswa lain yang berasal dari berbagai daerah. Selain karakter tersebut, rasa memiliki, pengabdian yang tulus, dan dedikasi yang ada pada setiap anggota IADI Mesir menjadikan perkumpulan ini tetap eksis, bisa dibuktikan dengan perhatian senior-senior IADI yang terus membina dan memperhatikan junior-juniornya, dan juga tingginya semangat anggota IADI khususnya dewan pengurus dalam melakukan pembenahan dan pengembangan internal dan eksternal organisasi tiap tahunnya, juga keaktifannya mengadakan gebrakan-gebrakan baru yang lebih kreatif dan inovatif.

Ikhlas Mengabdi

Di Umur yang sudah menyentuh angka 27, cinta berbalut harapan dan doa untuk IADI masih terus ada. Para murid Anregurutta Ambo Dalle yang hijrah ke Mesir menimba ilmu tiap tahunnya juga semakin bertambah, akan senantiasa ada tangan yang ikhlas dan tulus menjaga nama baik IADI dan terus memepertahankan eksistensinya. Insya allah berkah akan turun dan pertolongan Allah SWT. Dekat dengan orang-orang yang ikhlas membantu sesama, peduli dengan lingkungan sekitar dan orang yang mengurus IADI Mesir. Itulah yang ditanamkan sejak awal oleh para senior. Kita di IADI bukan hanya sekedar berorganisasi, berproses dan membangun jejaring. Tapi kita punya Anregurutta Ambo Dalle yang menjadi kebanggaan bersama, ada wadah pengabdian yang kita yakini sebagai salahsatu sumber keberkahan.

Oleh: Galang Adi Putra 


Tasbih Usang

 


Kaki itu mengayun menyapu pasir halus berwarna kekuningan di sekitarnya. Meninggalkan jejak-jejak seketika, sebelum hilang kembali tersapu angin yang tak mau kalah perkasa oleh terik matahari yang juga semakin sangar menyengat segala sesuatu yang ia jumpai. Pandangannya mengalun ke seluruh arah bersamaan dengan kakinya yang masih saja sempoyongan melangkah. Tidak ada yang matanya tangkap kecuali semua nampak sama, padang pasir gersang yang seolah tak bertepi. Sudah dari tadi ia berusaha menggerakkan jasadnya mencari jalan keluar dari jiwanya yang semakin terombang-ambing.

Mulutnya yang tadinya masih ia usahakan menyebut-nyebut nama Tuhan serta kekasih-Nya, kini hanya menganga kepayahan karena lelah yang sudah tak tertahankan. Sesekali pasir-pasir yang dibawa udara panas itu singgah ke tenggorokan keringnya, membuatnya batuk dengan kesakitan yang luar biasa. Tangannya yang masih kukuh memegang erat tasbih usang rapuh. Tasbih sederhana dengan 99 butir terbuat dari kayu yang kini sudah tampak retak di sebagian sisinya, juga dengan tali perangkai yang juga sudah mulai terurai. Tasbih itu ia dapatkan dari gurunya lima tahun lalu. Dari awal ia menerimanya, keadaannya memang sudah tidak tampak baik.

Namun tampaknya tak ada lagi untaian-untaian tasbih di setiap butirnya kali ini, hanya genggamannya yang semakin kuat mencengkeram benda kesayangannya itu. Pakaian putih tipis yang ia kenakan juga sembari dari tadi basah tak terkira oleh keringat tubuhnya. Kopiahnya sudah dari tadi diterbangkan angin, ia tak punya kuasa dan daya untuk mengejar, mengambil, lalu meletakan kembali ke kepalanya, untuk berjalan saja ia sudah setengah mati.

Namun bukan hanya jasad tubuhnya yang merasakan kesengsaraan saat ini, bahkan juga hatinya begitu merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Ia tak tahu dari mana kesedihan itu. Seolah mengikuti kepayahan jasadnya, jiwanya bersedih bahkan melebihi kesedihan jasadnya. Jiwa itu seperti mencari-cari sesuatu yang hilang darinya. Kegelisahan menyelimuti relung jiwanya, bahkan puji-pujian kepada kekasih dan Tuhannya serasa tak memberi debaran ketenangan seperti apa yang sering ia rasakan. Ia sungguh merasa sengsara lahir dan batin.

Tiba-tiba kedua kakinya terhenti, bukan karena telah menemukan jalan keluar dari kesengsaraannya, melainkan ia merasa tidak punya daya lagi untuk beranjak. Ia menjatuhkan tubuhnya bersimpuh lusu di atas hamparan pasir. Ia persis seperti unta kurus yang duduk di tengah gersangnya padang pasir. Ia menengadahkan wajahnya ke langit yang gagah bersih dari awan, lalu mengangkat tangan kanannya yang sembari dari tadi menggenggam tasbih usangnya. Ia menatap benda itu, benda yang senantiasa menemani perjalanan rohaninya. Tak ia sadari setetes air kesedihan jatuh dari mata merahnya, diikuti tetesan-demi tetesan yang semakin deras membasahi wajah usangnya. Ia merasa putus asa atas kesedihan dan kegelisahan yang membelenggunya. “Ke mana rasa ketenangan dan kesejukan yang selalu engkau beri? Aku sungguh membutuhkannya sekarang.” Hatinya bergumam sungguh bersedih, seolah berharap tasbih itu memberikan jawaban. Namun seperti seharusnnya, benda mati tetaplah benda mati, tak ada yang bisa di harapkan darinya, meski ia harap hukum kebiasaan terlampaui sekarang, namun nyatanya tidak. Jadilah ia semakin bersedih dalam tangisnya, yang kini juga telah diiringi suara tangisan dari mulutnya. Menangislah ia seperti seorang bayi kehausan meminta asi ibunya.

“Sejak kapan aku ajarkan engkau berharap pada benda mati, wahai anakku?”

Tiba-tiba jiwanya menangkap satu sura yang begitu jelas. Ia sepontan mengangkat kepalanya, mencari dari mana sumber suara itu berasal. Ia menoleh ke segala arah, namun tak ada seseorangpun yang ia temui, hingga pandangannya menangkap sebuah bayangan putih dari arah kanan dirinya. Ia berdiri seketika, berusaha menggerakkan tubuhnya, berlari menghampiri bayangan putih itu, seolah mendapat kembali asupan tenaga, ia berlari sekuat tenaga yang ia punya. Ia tak asing dengan suara khas itu, sambil kakinya mengayun semakin cepat, mulutnya berucap lirih: “Guru!”

Namun semakin kakinya melangkah lebih cepat, juga mulutnya yang semakin sering dan lirih memanggil sosok yang ia tuju, bayangan putih itu juga terasa semakin jauh. Langkahnya mulai melambat, hingga akhirnya tubuhnya kembali mencapai batasnya, lalu terhenti. Namun mulutnya masih saja menyebut-nyebut kata yang sama. Kini ia hanya bisa berdiri, terdiam menghadap sosok tujuannya itu, sembari matanya yang masih terus menggambarkan kesedihan jiwanya.

“Wahai anakku! Mengapa engkau seperti kehilangan arah tujuan?”

Suara itu kembali tertangkap jiwanya, namun hanya tangisan yang bisa ia suguhkan sebagai jawaban.

“Sejak kapan aku ajarkan dirimu untuk menjadikan mahluk sebagai tujuan atas perjalananmu, duhai anakku?” Sura itu kembali berlanjur, namun setelahnya hanya hening, bersama hilangnya pula bayangan putih di hadapannya.

Kini ia hanya terdiam, tertunduk seolah menghitung pasir yang menyapu kakinya. Hatinya seolah tertusuk begitu pedih oleh makna yang dihantarkan suara-suara itu, terutama pada kalimat yang terakhir. Ia merenung, seolah kebodohan dan ketersesatannya kini dipaparkan begitu jelas dalam jiwanya. Ia baru saja menyekutukan Kekasihnya secara tidak sadar, sungguh ia merasa begitu durhaka sekarang. Dengan tangisan penyesalan yang begitu sedih ia pejamkan matanya lalu berujar:

“Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah al azim allazi la Ilaha illa Anta, subehanaka inni kuntu minaz zaalimin, astagfiruka wa atubu ilaik. Ilahi Anta maksudi wa ridaka matlubi, aatini mahabbatak, wa ma’rimatak, wa biqurbika ya Allah!” Begitu lirih kalimat penghambaan itu terucap.

Seketika, kaki yang tadinya begitu panas oleh pasir gurun, kini terasa hawa sejuk di sana. Ia membuka matanya, dan ia dapati gemericik air mengaliri kedua kakinya, ia menghamparkan pandangannya ke seluruh arah. Padang pasir gersang dengan hawa panas yang begitu mencekam sudah tak ada, tergantikan menjadi pemandangan yang begitu menyejukan tubuh. Rindang tumbuhan di sekelilingnya, dengan hembusan udara sejuk menyapu dedaunan memberi suara-suara yang begitu tentram, seperti nyanyian ketenangan. Dirinya sekarang ia dapati berdiri di tepian sungai, dengan kedua kaki yang tersapu aliran jerninya. Seketika suasana kesusahan dan kegelisahan yang dari tadi membelenggunya kini tergantikan dengan kesejukan dan ketenangan yang begitu melenakan.

Ia menatap aliran sungai yang begitu jerni di hadapannya, airnya bening hingga dasar sungai terlihat jelas. Air sungai seolah mengundang dirinya untuk menikmati kesegarannya. Ia tak sanggup menolak ajakan itu, setelah sekian lama dirinya terbelenggu dalam kesengsaraan, ia merasa ini adalah saatnya untuk membayar kepayahan yang ia dapatkan sebelumnya, juga berharap mendapatkan ketenangan dan ketenteraman. Tak berpikir dua kali, ia seketika menyeburkan raganya, namun tak sadar ia juga ikut membawa jiwanya dalam kenikmatan itu.

Cukup lama ia menikmati segarnya air sungai, hingga rasa dingin menyelimuti raganya, dan ia rasa sudah cukup untuk itu. Kini ia duduk bersila di pinggiran sungai, menatap matahari yang sebentar lagi terbenam, dengan raga yang masih basah oleh air sungai. Ia tersenyum begitu bahagia, menikmati semua kenikmatan itu. Dari wajahnya tak terlihat lagi bekas kesengsaraan yang ia rasakan sebelumnya. Ia seperti telah mendapatkan tujuan dalam perjalanannya.

“Jangan engkau kira hijab hanya berupa kegelapan nak!”

Tiba-tiba suara itu kembali tertangkap oleh jiwanya, dan sungguh itu sangat jelas dengan telinga kanannya sekarang. Ia menoleh ke arah suara itu berasal, dan ia dapati seorang kakek tua telah duduk di sampingnya, mengikuti cara duduknya, dengan tatapan juga pada jingga di barat sana. Di tangan kanan sang kakek tampak tasbih yang butirannya bergerak saling tindih-menindih dengan jari telunjuk sebagai penggerak, dan ibu jari serta jari tengah sebagai tempat tasbih tergantung.

Seketika ia sadar, ia kehilangan tasbihnya, bagaimana mungkin ia tak menyadarinya, ia tak tau sejak kapan tasbih itu hilang dari genggamannya. Yang jelasnya tasbih yang sedang dipakai kakek tua itu adalah tasbih miliknya. Namun ia tak berani memintanya kembali, karena sekarang ia menatap senyum di wajah sang kakek tua: itu senyum gurunya. Ia tak bisa berkata apa-apa, hanya matanya yang kembali berbicara dengan air mata, seolah mengungkapkan betapa merindu dirinya pada sosok yang ada di sampingya sekarang.

“Jangan engkau kira hijab hanya berupa kegelapan nak!”

Gurunya kembali mengulang kalimat sebelumnya. Ia seolah tau muridnya belum sadar dengan kalimat pertamanya.

“Terkadang cahaya lebih keras menutupi daripada kegelapan. Ingat nak, dengan engkau sampai pada Sang Kekasih Sejati, ketenangan dan kebahagiaan akan menyelimutimu. Bukan sebaliknya, anakku. Tuhanmu bukanlah sebuah rasa. Bukan ketenangan dan ketentraman yang engkau sembah, nak!” Kalam-kalam itu berlanjut.

Hening sejenak,

 “Niga-niga masero lesse angolnna, mawatanngitu lettu.”

Lalu angin dari selatan berhembus halus, sedikit menggoyangkan tasbih yang masih tergantung di tangan sang guru. Begitu juga dengan sarungnya yang terkibas halus. Semua rangkaian itu seolah mengiringi kalimat itu.

Setelah kalam-kalam itu terucap, lalu sang kakek menggerakan tangan kanannya, yang masih ada tasbih di sana, meletakan benda usang itu pada pangkuan sang murid, lalu berucap dengan tenang diakhiri senyum, sembari jasadnya seolah mengikuti hembusan arah angin, lalu pudar bersama ke mana laju udara itu berhembus.

 “Aku kembalikan milikmu.”

***

Ia terbangun dari tidur lelapnya, dengan bekas perjalanan pada kantong matanya.

Tamat.

Oleh: Ahmad Adnang 


Apakah Rinduku Demikian?

 


Katanya segala sesuatu akan musnah,  

Apakah rinduku demikian? 

Berikan jiwa ini sepucuk surat penenang sayangku 

Agar ia bisa menggerakkan raganya esok hari 

Ataukah sekadar kabar gembira yang engkau titipkan di bunga-bunga tidurku 

Yang di setiap kelopaknya akan aku temukan syair-syair kesedihan rindu 

Telah aku baca rayuanmu kemarin 

Dan telah merona hatiku dibuatnya 

Namun untuk hari ini belum satu puisi pun membelai hatiku, hingga kembali engkau titipkan rayuan itu pada rintihan pengharapanku pada Tuhanmu 

Aku menemukan kasihmu pada gelap tutup mataku 

Pada tasbih yang aku langitkan, berharap belas kasih Kekasihmu 

Gemetar hatiku bersenandung riang menyebut-nyebut nama indahmu 

Jasadku tak kuasa menahan getarannya, ia menari mengikuti setiap hentakan hatiku 

Urat nadiku pun seolah tak mau kalah, ia berpuisi atas nama dirimu 

Namamu seolah harum dalam setiap denyutnya 

Garis bibirku merona mengeluarkan semua aura kebahagiaannya 

Namun, mata ini tetap saja masih dengan air matanya, tetesannya mengalir melintasi garis lengkung bibir ini 

Seolah memberi isyarat, bahwa kesedihan dan kebahagiaan adalah satu hal yang tak jauh berbeda

Katanya segala sesuatu akan musnah pada akhirnya 

Apakah rinduku demikian? 

Aku titipkan salam padamu sesaat sebelum jasad ini menuju pembaringannya  

Berharap jiwa yang bersemayam di dalamnya dapat berlari menghampiri telapak kakimu di alam selanjutnya

Lalu ketika ia kembali dalam kesadarannya, aku berharap bekas belaianmu aku dapati dalam bantal tidurku 

Juga bersama kisah-kisah yang kau beri semalam, akan ‘ku rangkai sedemikian rupa pada rayuanku yang selanjutnya 

Duhai, Sayangku! 

Tampaknya rindu ini semakin kurang ajar, 

Aku kira setelah pertemuan, ia akan mereda, berdamai dengan jiwa tempatnya bermukim 

Namun justru salah 

Ia semakin menjadi-jadi, Sayangku! 

Menuntut agar tak pernah terpisahkan dari indah dirimu 

Maka, 

Apakah rinduku demikian? 

Jika jasadku nantinya musnah tertelan takdir 

Aku berharap masih ada rindu yang mengalun dari bau busuk bangkaiku. 

Jika jiwaku nanti tenggelam dalam jurang kepedihan 

Aku berharap masih ada benang-benang rindu yang teruntai untuk ia raih 



Oleh: Ahmad Adnang 

 

 

 


 

 

 

 

 

Kurang Perhatian,... Kekerasan

 


Kemarin...

media jurnalistik tak henti-henti mengabarkan sebuah peristiwa yang kian menjadi sorotan publik, terutama di kalangan Mahasiswa Indonesia Mesir (MASISIR).

Menyuguhkan dua garis besar pandangan. Seolah, yang terjadi memang merupakan dua hal yang berbeda. Tak banyak yang tertarik untuk mengupas sebab terjadinya hal yang konon berbeda itu.  

Kini, yang tersisa hanyalah arsipan berita, mengakar dan menjadi saksi dalam karya jurnalistik yang ada.

Menjunjung tinggi harga diri dan rasa malu (siri'), merupakan sifat yang melekat erat pada suku Bugis/Makassar. Sebuah konsep yang membuat pemilik siri' itu senantiasa mempertahankan dan malu melakukan perbuatan buruk yang akan menurunkan harga dirinya. Namun dalam menerapkannya, terkadang ada yang salah mengartikan, Dimana ketika merasa harga dirinya itu sedang dinodai maka dengan segera ia akan melakukan tindak kekerasan yang juga berakibat pada menurunnya siri' itu sendiri.

Merasa benar dengan tindakannya, "toh, saya melakukan ini, demi mempertahankan siri!".  

Bukannya penulis ingin mengatakan bahwa itu perbuatan yang benar atau tidak, tetapi apakah itu satu-satunya cara yang dapat dilakukan?!. 

Menurut March F Makaampoh. 2013, "Premanisme adalah perilaku yang menimbulkan tindak pidana yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. 

Percikan api menyebabkan kebakaran. Jadi, apakah ada sebab yang melatarbelakangi suatu 'perkelahian'?! 

Jalas... 

"Jangan main api", kata orang tua dulu, saat kita masih kecil. Dan sekarang, tidakkah kita paham maksud dari larangan itu?! 

Pada umumnya 'perkelahian' merupakan buah dari tiadanya rasa saling memahami dan menghargai dari kedua belah pihak, misalnya, ketika pihak A dihina, difitnah dan apapun bentuknya, tentu secara naluriah ia akan melakukan hal yang serupa sesuai dengan yang ia dapatkan, bahkan akan melakukan lebih dari itu, begitu pun pihak B, sebaliknya. 

Ketika terjadi tindak kekerasan, bukan berarti pihak yang melakukan kekerasan itu sepenuhnya bersalah, namun juga perlu diperhatikan, apa sebenarnya yang memicu tindakan itu terjadi.  

Maka dari itu, tentu dibutuhkan sesuatu yang menjadi penengah layaknya orang tua ketika menengahi perkelahian di antara anak-anaknya. Sekali lagi, ini adalah 'perkelahian' bukan 'penyerangan' seorang saudara ke saudaranya. Melerai, mengevaluasi, menasehati dan juga berusaha mencari sebab dari pertengkaran anak-anaknya. 

Di lain sisi, banyak kita saksikan tindak kekerasan dalam masyarakat, seperti yang dilakukan oleh para preman di pasar, di gang dan sebagainya, namun ketika premanisme disandarkan pada orang-orang kerap kali disebut dengan pewaris nabi, yang notabenenya merupakan mahasiswa Al-Azhar, wajarkah hal ini terjadi? 

Mengaplikasikan ilmu yang dimiliki dan kesadaran dari kedua belah pihak yang tengah berada dalam ruang tertutup tanpa ventilasi itu sangat ditekankan.  

 Perlu ditekankan juga, bahwa orang tua dalam mendidik anaknya, tidak boleh tergesa-gesa dalam memarahi ataupun mengambil keputusan ketika terjadi masalah, dengan artian 'hanya' menilai berdasarkan bisikan hati tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang akan terjadi pada anak-anaknya. Dalam hadis, "...Hakim yang salah dalam memberikan ampunan, lebih baik daripada hakim yang salah dalam memberikan hukuman".

 Pada hakikatnya, manusia ketika menghadapi perbuatan yang menyakitkan, ia akan condong untuk membalas dengan perbuatan yang sepadan bahkan lebih, bila tidak segera ditangani, maka di kondisi ini nafsu akan menjadi pengontrol seakan menghijabi akal dengan kain hitam yang menutup pandangan, namun bukankah Islam datang dengan membawa sebuah jalan yang begitu luhur, dimana ini dicontohkan langsung oleh rolemodel kita dan yang senantiasa mengikutinya?!  

Oleh: Mushawwir Rahman 

 

 

 

 

 

 
Copyright © 2014 Addariah. Designed by OddThemes