BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Ruang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 November 2023

Tidak Butuh Dalil Untuk Mencintai IADI Mesir


 Visi utama suatu Organisasi secara umum pastinya bagaimana organisasi tersebut bisa maju, aktif dan inovatif. Dan untuk mencapai tujuan itu harus berlandaskan kekompakan tim dan semangat pengabdian yang tinggi. Dinamis atau statisnya suatu organisasi tergantung pada peran anggotanya, hal inilah yang senantiasa diseimbangkan dan diupayakan stake holders (-red pengurus) di setiap masa jabatan. Problematika kemunculannya tak bisa kita predikisi, maka kita harus menjadi figur dengan kemeja lengan panjang tergulung yang selalu siap mengnyelesaikan setiap masalah.

Sejak terbentuk, Ikatan Aumni Darud Dakwah wal Irsyad Republik Arab Mesir (IADI MESIR) senantiasa hadir menebar manfaat dan konsisten melakukan kegiatan-kegiatan positif di lingkungan mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir), juga masih terus aktif dan berupaya mencetak SDM yang unggul. Melalui proses pengaderan yang masif, dengan pintu itu semangat pengabdian terus tumbuh dan tetap menancap di hati dewan pengurus. Hingga tiap tahunnya mereka senantiasa mengerahkan pikiran dan tenaga agar IADI Mesir tetap eksis dan terus diperhitungkan, serta ikut berkontribusi di setiap bidang.

Catatan Ringkas Sejarah IADI

Sejarah mencatat berbagai prestasi akademik dan non akademik berhasil ditorehkan oleh IADI Mesir. Pencapaian membanggakan yang cukup banyak dan deretan nama yang mengharumkan nama baik IADI baik yang masih berada di Mesir maupun yang sudah kembali ke tanah air berkarir dan menjadi orang-orang penting itu sudah tak terhitung jumlahnya hingga saat ini, yang kami kira tidak cukup tertuangkan hanya dalam satu rubrik ini.

Dengan nama yang sudah besar dan masyhur, banyak persitiwa-peristiwa penting yang terjadi sejak didirikannya hingga detik ini, maka dewan pengurus berinisiatif membukukan dan mengabadikan momen-momen bersejarah itu, yang sekarang digarap dan disusun oleh tim “Projek Rekam Jejak IADI Mesir”. Karena data dan informasi yang cukup banyak, proses penyusunan rekam jejak IADI butuh waktu yang tidak singkat untuk diselesaikan.

Dalam bidang akademik, tepat sepuluh tahun silam di tahun 2013 IADI Mesir berhasil meraih penghargaan almamater terbaik , karena banyaknya anggota IADI Mesir yang menyelesaikan program pasca sarjana dan program doktoral di Universitas AL-Azhar Asy-syarif dan Universitas lainnya yang ada di Kairo. Hal tersebut menjadi acuan bagi para generasi setelahnya untuk meniru jejak para pendahulu, terus melanjutkan kajian keilmuan sebagai penopang study teman-teman warga IADI, forum diskusi dan kajian IADI masyhur dengan nama “NADWAH”.

Konsistensi Nadwah

 Sejatinya IADI Mesir menyelenggarakan beberapa program kerja dari tiap Departemen dan Badan Otonom, seperti Bincang Santai Sastra Arab, Pelatihan Kepenulisan Karya Tulis Ilmiah, Sport Day, Women Talk Show dan kegiatan lainnya, namun Nadwah punya nilai tersendiri karena kegiatan inilah juga yang menjadi program pertama IADI, dan masih terus konsisten berjalan hingga sekarang.

 Salahsatu yang menjadikan suatu hal punya keberkahan dan nilai plus adalah karena istikamahnya. Maka tak heran, dari Rahim nadwah ini sudah begitu banyak orang-orang hebat yang lahir. Muncullah ungkapan senior yang mengatakan ; Nadwah adalah IADI, IADI adalah Nadwah.

 Pada awalnya kegiatan keilmuan IADI belum bernama Nadwah, karena kesan penamaan diskusi terlalu sempit, maka diinisiasilah nama Nadwah agar lebih modern dan lebih sistematis. Nadwah dalam Bahasa Indonesia adalah simposium yeng terdiri dari moderator, pemateri, notulen, partisipan dan sesi tanya-jawab. Nadwah terbagi menjadi tiga jenis: Nadwah Lughawiah yang berfokus dalam pengkajian gramatikal Bahasa arab. Nadwah Tafsiriah yang di dalamnya kita mengkaji ayat-ayat al-Quran al-Karim, dan yang terakhir ada Nadwah Ilmiah, dengan system presentasi makalah ilmiah yang berbahasa Indonesia.

Keaktifan Anggota

 Anggota-anggota IADI Mesir srtiap tahunnya menempati posisi dan peran vital dalam organisasi di kancah Masisir secara umum, dan lingkup KKS Mesir secara khusus. Hal Tersebut tidak terlepas dari peran anggota yang memiliki sifat yang terbuka dan mudah bergaul dengan mahasiswa lain yang berasal dari berbagai daerah. Selain karakter tersebut, rasa memiliki, pengabdian yang tulus, dan dedikasi yang ada pada setiap anggota IADI Mesir menjadikan perkumpulan ini tetap eksis, bisa dibuktikan dengan perhatian senior-senior IADI yang terus membina dan memperhatikan junior-juniornya, dan juga tingginya semangat anggota IADI khususnya dewan pengurus dalam melakukan pembenahan dan pengembangan internal dan eksternal organisasi tiap tahunnya, juga keaktifannya mengadakan gebrakan-gebrakan baru yang lebih kreatif dan inovatif.

Ikhlas Mengabdi

Di Umur yang sudah menyentuh angka 27, cinta berbalut harapan dan doa untuk IADI masih terus ada. Para murid Anregurutta Ambo Dalle yang hijrah ke Mesir menimba ilmu tiap tahunnya juga semakin bertambah, akan senantiasa ada tangan yang ikhlas dan tulus menjaga nama baik IADI dan terus memepertahankan eksistensinya. Insya allah berkah akan turun dan pertolongan Allah SWT. Dekat dengan orang-orang yang ikhlas membantu sesama, peduli dengan lingkungan sekitar dan orang yang mengurus IADI Mesir. Itulah yang ditanamkan sejak awal oleh para senior. Kita di IADI bukan hanya sekedar berorganisasi, berproses dan membangun jejaring. Tapi kita punya Anregurutta Ambo Dalle yang menjadi kebanggaan bersama, ada wadah pengabdian yang kita yakini sebagai salahsatu sumber keberkahan.

Oleh: Galang Adi Putra 


Jumat, 22 Juli 2022

Addariah: Selembar Memoar

Lambang Addariah

Oleh: Muhammad Akbar Amnur (Pimred Buletin Addariah 2013-2014)

            Hal yang lazim apabila sebuah media cetak mengalami pasang surut penerbitan, bahkan mati suri di tengah kalangan Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir). Tak terkecuali bagi Buletin Addariah.

Tujuh tahun buletin ini berada dalam abad kekosongan, waktu yang teramat panjang. Ironisnya, Addariah vakum dikarenakan faktor internal di tubuh Ikatan Alumni Darud Da'wah Wal-Irsyad (IADI) yang memetieskan media kepenulisannya sendiri. Kepengurusan silih berganti periode ke periode akan tetapi tak lagi dilirik dan tak pernah terbit sekali pun pasca cetakan ke-56, 6 Desember 2013 silam.

Maka terbitnya Buletin Addariah kali ini merupakan angin segar bagi dunia kepenulisan Masisir. Khususnya bagi anggota IADI, almamater terbesar dalam tubuh Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS). Sebab jika menilik jauh ke belakang tujuh tahun yang lampau, di KKS, satu-satunya media cetak yang terbit hanyalah Addariah.

Namun, tulisan ini tak bermaksud mengurai kendala-kendala yang menghambat terbitnya Buletin Addariah, serta kegagalan pemangku tanggung jawab media kepenulisan Dewan Pengurus IADI tahun-tahun sebelumnya. Pendek kata, saya ingin sekadar bernostalgia dengan singkat sewaktu memikul amanah sebagai Pimpinan Redaksi Buletin Addariah di sini, di dalam catatan sederhana ini.

Percikan Kenangan

Kala itu, saya belum membaca makalah al-Qalqasyandy, Fadhl al-Kitabah wa Mudh Fudhalai Ahliha, tulisan yang memuat sehimpun fragmen risalah, kaul, serta pasase dari para kuttab se-kaliber al-Muayyad hingga al-Jahidz mengenai keutamaan menulis dan penghargaan bagi para ahlinya. Mengemban amanah sebagai pimpinan redaksi saya tunaikan penuh antusias, setelah menerima instruksi yang berdasar SK IADI dari Muhammad Rifqi Ahrar, Ketua IADI Masa Bakti 2013-2014.

Semangat saya terpacu begitu saja, senang ‘dianggap' bisa menulis. Apatah lagi sesudah mengikuti seminar jurnalistik bertema "Semesta Menulis" yang terselenggara atas kerjasama Ikatan Jurnalis Masisir (IJMA) dan PPMI Mesir, dengan pemateri sekelas Irwan Kelana; redaktur senior Republika.

Musim gugur di bulan September 2013, Buletin Addariah edisi 55 pun terbit tanpa kendala yang berarti. Tak sedikit yang memberi pujian, karena Addariah mampu bangkit dari mati suri tiga tahun lamanya. Meski di lain pihak, muncul kritikan atas penerbitan tersebut, menyayangkan naik cetaknya Addariah yang tak layak diterbitkan.

Kritikan tersebut menyadarkan saya pribadi, atas ketidaksuksesan cetakan pertama ini. Ibarat perahu yang tenggelam di lautan lepas, bukan lantaran perahu rusak melainkan ke-tidakpiawai-an sang nahkoda dan para awak melayarkannya.

Teringat ‘pappaseng’ (pesan) di dalam Elong-syair, Bulu Alauna Tempe (Gurung di seberang Timur Danau Tempe) karangan Abdullah Alamudi yang berbunyi "Mau Tellu Pabbisena Nabongngo Pallopinna Alla Teawa Nalureng”—biar tiga pendayungnya, kalau tak cakap nahkodanya, tak sudi aku jadi penumpangnya.

Sejak itu saya beserta rekan-rekan kru yang lain berbenah diri, sehingga Buletin Addariah terbilang sukses pada cetakan selanjutnya, sekaligus menjadi cetakan terakhir di rentang masa tujuh tahun belakangan.

Barangkali demikian sekilas kenangan bersama Addariah—dan saya tidak ingin terjebak dan berlama-lama di sana!

Membicarakan masa lalu, sama pentingnya membicarakan masa depan Addariah. Agar eksistensinya bukan sebatas terbit sekali dua kali guna memenuhi tanggung jawab yang telah diamanahkan kepada segenap kru Addariah sudah saatnya fokus menata diri, menjadi media dengan sepak terjang yang tinggi di kancah Masisir. Selain harus mempertahankan diri agar tak tergerus zaman.

Dan masa depan itu tampak jelas daripada antusiasme segenap kru, ditopang dengan membludaknya anggota IADI adalah harapan besar di masa akan datang. Konsistensi penerbitan disertai kerja awak media yang kreatif dan inovatif, tak menutup kemungkinan satu saat nanti buletin tercinta menjadi tamsil bagi media-media cetak yang ada di tengah Masisir.

Sebagai penutup memoar singkat ini, terselip harap semoga Buletin Addariah tak disia-siakan seperti sediakala. Untuk menumbuhkan kepedulian terhadap budaya literasi sekaligus menjaga warisan para leluhumya, lewat media inilah tangan-tangan emas anggota IADI seharusnya menempa diri.

Di dalam makalah al-Qalqasyandy yang telah saya sebutkan, sebuah ungkapan yang sederhana tetapi patut untuk kita renungkan bersama, Al-Ma’n bin Zdah berkan "Idza lam Taktub al Yad Fahiya Rijl.”

ADDARIAH EDISI 57, 20 APRIL 2019

 
Copyright © 2014 Addariah. Designed by OddThemes