BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Oktober 2023

Bapak dan Kepergiannya

 


Bapak dan Kepergiannya
Oleh: The Man Dervish

Malam itu…
Bintang gemintang berdzikir di kedipannya
Angin silir bertasbih di embusanya
Lantunan hati Al-Quran menderai air mata
Iringan syahadat terbisik, menggetarkan jiwa

Bapak…
Tarikan nafasmu menyiratkan perpisahan
Gerakmu membungkus perasaan kian dalam
Segenap ruangan menatap matamu yang berlinang
Mata yang terekam kisah kesan dan kenangan

Bapak…
Bagiku kau adalah pendekar
Senyummu laksana bunga yang mekar
Nampak ketulusan hatimu tersebar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kendati badai datang menyambar
Namun pendirianmu tak gentar
Pengorbananmu tak pernah pudar
Demi anakmu menjadi terpelajar

Hingga kau...
Kau hembuskan nafas terakhir
Kau pergi menuju Sang Pemilik Alam
Membalut kesedihan
Seolah tak ada lagi cerita hidupku

Orang-orang datang menguatkanku
Agar tak terbenam dalam hampa kehilangan
Tentangmu dan cintamu
Kini namamu hanya kulangitkan
Sampai Allah mengizinkan perjumpaan itu lagi

Bapak…
Dalam hening, kurindu
Namun kerinduan hanya kerinduan
Mencoba merangkul kata dari kalbu
Yang amatlah luas jika segalanya diuraikan

Jiwamu cerminan samudra tak bertepi
Seiring ku menyelaminya semakin terasa cinta dan kasih sayangmu
Terima kasih telah kau labuhkan pada dermaga hidupku

Bapak…
Kepadamu yang telah pergi
Telah kutitip rindu pada langit Al-Azhar
Yang sehangat pelukanmu... Selamat Jalan Bapak.

Kamis, 20 Juli 2023

Romantisasi Masa Lampau



Oleh: Andi Muhammad Akram Ibrahim

Tidak ada yang setua dan serenta

peradaban Abbasiyah.

Tidak ada yang secemerlang

pemikiran Andalusia.

Tidak ada yang sesubur Baitul Hikmah

dalam melahirkan anak-anak emas.

Masihkah ada?

Masihkah sadar?

Masihkah kita terjebak menatap

nanar-nanar sejarah?

Masihkah kita menetap

terkungkung dalam kisah romantis

masa lampau?

Latar yang terukir

Penulis-penulis barat yang kikir

Kejam menyembunyikan

Meracik

Meracuni

Membungkam fakta

Melepaskan fiktif

Menjadi penyintas

Bahkan sedikitpun tidak

menyisahkan bekas anak-anak sejarah

Bagaimana kabar kejayaanmu yang dijarah?

Apakah kau mau biarkan punah?

Apakah kau biarkan begitu saja?

Anak-anak sejarah

Sadar!

Apakah kau ingin perpustakaan

cordoba-cordoba lain terbakar?

Apakah kau ingin pemikiran-pemikiran Islam lainnya

ditanggalkan, dilucuti, tinggal nama?

Anak-anak sejarah sadar!


“Banyak” Tak Menjamin Ramai

 

Foto Dokumentasi Nadwah

Oleh: Fahri Syahrial

Sore itu, selepas menunaikan salat asar. Aku bergegas dengan setelan yang rapi menuruni anak tangga imarahku menuju Sekretariat IADI Mesir untuk mengikuti acara pekanannya yaitu Nadwah. Langit Mesir yang cerah mengiringi langkahku, suara anak kecil saling bersahutan, diikuti dengan angin berhembus pelan nan sejuk. Jalanan ramai oleh lalu lalang para penduduk setempat dengan berbagai kesibukan, suara tuk-tuk (kendaraan bernama bajai) juga tak kalah ramai menghiasi telinga.

 

Tak sengaja, di pertengahan jalan aku bertemu dengan seorang teman, “mau ke mana, bro?” Sapanya dengan senyum akrab. “Ke sekret”, kataku. “Ada acara?” Tanyanya lagi. “Nadwah”, jawabku singkat. “Apa menunya nanti?” Katanya dengan penasaran. “Jangan karena menunya saja yang enak,  baru datangki ke sekret, bro!” Jawabku seraya pergi meninggalkannya.

“Mungkin saja, sekret sedang merindu kepada para petualang ilmu yang akan memenuhi setiap sudut ruangnya, akan suara-suara yang saling melempar argumen, canda-tawa, maupun riuh karena sekali-kali tepuk tangan mereka”, pikirku seraya melanjutkan jalan.

 

Setiba di sekret IADI di lantai empat, beberapa teman, senior dan penasihat IADI telah hadir meramaikan Nadwah. Namun, tidak membuat sekret sesak oleh mereka yang hadir, tak seperti biasa, Nadwah akhir-akhir ini sepi oleh para audiens. Padahal tahun demi tahun generasi semakin bertambah, tapi yang meramaikan Nadwah itu-itu saja, tak berubah. Mungkin mereka sedang asyik dengan tongkrongannya yang lain, atau mungkin makanan Nadwah yang kurang menarik bagi mereka?

 

Nadwah dimulai dengan berbagai rangkaian acara, dari MC yang membuka acara dan mempersilahkan kepada moderator sebagai  pemimpin Nadwah sekaligus mempersilahkan kepada narasumber untuk menyampaikan materinya, dengan waktu yang sudah ditetapkan. Setelah pemaparan materi, Nadwah kembali ramai dengan berbagai pertanyaan, sanggahan, maupun tanggapan dari para audiens yang sekali-kali di tengahi oleh moderator atau para penasihat. Tak kadang pertanyaan mengakar jauh keluar dari materi.

 

Sebelum Nadwah ditutup, pemateri menyampaikan pesan dan kesan serta kesulitan yang dialami sebelum dan selama membawakan Nadwah, juga wejangan dari para penasihat yang hadir sekaligus menutup Nadwah  dengan doa. Pertemuan hangat itu berakhir dengan jamuan buka puasa bersama selama bulan suci Ramadan. (Diluar bulan suci Ramadan Nadwah kembali dimulai setelah salat magrib).

 

Sekret tidak hanya menjadi tempat kita singgah sesaat yang setelah acara atau kegiatan selesai, kita juga beranjak pergi, seakan sekret menjadi tempat yang asing bagi kita. Lebih dari itu, sekret menjadi Pelabuhan tempat kita berlabuh, berkumpul, dan bersua kembali melepas rindu, merasakan hangatnya kekeluargaan di tempat perantauan. Makanan hanya pemanis, tetapi yang terpenting adalah kita saling bertatap muka, dan saling  berbagi cerita.

 

Bersama “Kita” untuk selalu meramaikan Nadwah. Kalau bukan kita, siapa lagi? Sebagaimana perkataan yang turun-temurun dari para pendahulu kita, yang mungkin tak lagi asing di telinga bahwa: “Beruntunglah orang-orang yang belajar di Al-Azhar, dan lebih beruntung lagi yang hadir di Nadwah IADI Mesir”.


Jumat, 22 Juli 2022

Puisi-puisi Pitulopi

 

KEMATIAN OSIRIS

Tuhan telah nampak diantara kita

Telah menyatu menjadi sebuah rasa

Tangisan cinta Isis sang feminim untuk Osiris

Menjadi sebuah aliran panjang tak bertepi

Para pemimpi itu menamainya ibu

Namun ketahuilah! Aku dan dia berbeda

Namun ku masih sepakat untuk sebuah nama

Perwujudan cinta yang bernama ibu


*** 


Kata-kata Tanpa Kata-kata

menjelang isya kutinggalkan kattameyah, pinggiran kota di tepi gurun—di sepi kesendirianku menuju darrasah. kepalaku penuh rencana-rencana seketika dilanda bencana kebosanan ketika kutumpangi angkot ini; bising percakapan orang-orang beraksen kedaerahaan membuat bahasa arab terdengar asing, seolah aku terdampar di satu kampung pedalaman di nigeria. di luar, debu pasir beterbangan menampar-nampar jendela kaca, bagiku malam ini membuat hidup serasa begitu malang! seorang pria tua seumuran ayahku duduk di sampingku semakin kesal saja sejak kami lewati perbukitan dengan jalan-jalan berlubang hingga setengah perjalanan ke sayyidah aisyah, ia tagih uang kembalian seperti anak kecil yang merengek minta uang jajan:

aku pusing dan mual berkendaraan—ciri khas kampunganku tak hilang-hilang juga meski sudah setahun lebih tinggal di kota ini, pria tua itu tambah frontal menagih, aku kian jengkel padanya. pikiranku teralihkan ketika kupandang bangunan-bangunan di seberang sepanjang jalan—diriku melayang-layang; tiba-tiba aku bertamu di rumahmu, atau menyepi di taman seorang diri sambil menulis selembar puisi, atau tersesat di nigeria. lamunan-lamunan itu berhampuran seperti bintang-bintang seperti kata-kataku.

sewaktu angkot ini tiba di sayyidah aisyah.  para penumpang turun, sebelum berlalu pergi membawa senyumnya pria tua itu menghampiriku lalu diserahkannya uang kembalian milikku. aku terdiam menerimanya, tanpa terima kasih tanpa kata-kata.

 

                ADDARIAH EDISI 57, 20 APRIL 2019

Seberkas Impian

 

Oleh: Farhan Mubarak

Di atas angkutan umum, aku pun mulai berandai-andai. Badanku boleh jadi sedang ada di Indonesia, tapi pikiranku tidaklah demikian. Aku sudah membayangkan bahwa diriku sudah sampai di Universitas yang kudambakan itu. Benakku seolah sedang menyusuri setiap sudut Kota Kairo, menjelajah ke sana-kemari dengan riangnya di antara pepohonan-pepohonan kurma yang katanya banyak tumbuh di Timur Tengah. Bahkan telah kubayangkan diriku sedang naik unta setiap paginya bila ingin berangkat ke Universitas Al-Azhar. Seolah diriku sedang tawaf saat ini di dalam Masjid Al-Azhar, membayangkan di dalamnya ramai akan Syekh yang sandar di tiap tiangnya, dikelilingi oleh pemburu-pemburu ilmu yang haus akan pengetahuan agama. Pasti sangat menyenangkan kalau diriku sudah sampai di belahan dunia sana.

Aku turun dari angkutan umum dan memasuki pekarangan Universitas UIN Jakarta. Akhirnya tinggal sedikit lagi dan impianku akan tercapai. Hatiku sangatlah senang, tapi ternyata di situlah letak kesalahanku.

Sesampainya di loket pengurusan berkas, aku bertemu Usman, sahabat karibku yang juga lulus ke Timur Tengah.

"Hei Baso. Kau makan apa semalam? Senyummu pagi ini tak mau berhenti merekah. Kau juga ingin mengurus berkas, kan?”

“Hei Usman. Haha aku masih tak percaya bahwa diriku ini telah lulus. Apa mungkin aku sedang bermimpi ya?!”

"Tentu saja tidak kau sedang di dunia nyata." Usman mendekat dan merangkul pundakku. Tangannya kemudian bergerak ke wajahku dan mencubiti pipiku. Aww, aku meringis.

"Semuanya memang sudah ditakdirkan, Baso. Jadi kita harus senantiasa bersyukur, karena diberikan takdir yang kita impikan. Oh iya, apa kamu sudah mengurus berkas?"

"Belum, aku baru saja sampai."

"Terus berkas kamu mana?"

Pertanyaan itu membuat pikiranku tersentak. Berkasku ada di mana? Tangan kananku tak menggenggam sesuatu pun, tak ada apa-apa di sana. Aku berusaha mengingat-ingat keberadaan berkas itu, hingga ingatanku mengarah di angkutan umum tadi. Setelah kupikir-pikir di mana berkas itu, tetap saja ingatanku mengarah kesana. Tanpa pikir panjang aku pun berlari secepat mungkin untuk mencari angkutan umum tadi, barangkali belum jauh dari sini. Namun nihil, angkutan umum itu telah jauh pergi.

Tak terasa air mataku jatuh, rasanya mimpi-mimpi itu mulai menjauh. Oh Tuhan... akan kubawa kemana mimpiku setelah kejadian ini. Mungkinkah mimpi ini telah berakhir, atau memang aku tak layak menggapai mimpi itu. Apakah aku tidak bisa menjadi salah satu dari orang yang melangitkan mimpi? Wajah kecewa orang tuaku seketika bermunculan. Terbayang betapa sedih mereka, betapa harapan yang sudah dibangun pupus seketika hanya karena kendala administrasi. Ah, Membayangkannya saja rasanya begitu sakit, bagaimana seandainya kalau mereka tahu? Kuceritakan kejadian ini kepada Usman, sahabat karibku, berharap membagi keresahan dapat meringankan bebanku.

"Jangan putus asa, Baso. Dunia ini terlalu kecil dibanding mimpimu. Bukankah mudah saja bagi Tuhan membuat itu jadi nyata? Sebagaimana Firman-Nya jika hambaku meminta maka akan aku kabulkan masihkah kamu percaya dengan itu? Jika ya, bangkitlah dan teruskan usahamu Biarkan Tuhan yang bekerja sesuai cara-Nya". Usman mencoba meyemangatiku. Benar saja. kalimatnya membuatku tersadar kembali.

"Lalu aku harus bagaimana, Usman? Bagaimana mungkin aku bisa berangkat ke Mesir tanpa berkas-berkas itu?"

"Tenang... Nanti kita cari bersama-sama."

***

Matahari mulai tenggelam, tanda siang akan digulung malam. Kabar keberadaan berkas itu tak kunjung datang. Seluruh usaha telah aku kerahkan, hingga jarak putus asa sudah terasa sangat dekat. Aku mulai kelelahan. Mencari di berbagai tempat, hingga aku pergi ke terminal di tengah kota. Berharap berkas itu ditemukan, hasilnya selalu nihil. Kota ini terlalu besar untuk mencari berkas yang hilang.

"Permisi..... maaf pak. Apakah bapak pernah melihat atau menemukan berkas yang tercecer di mobil? berkas itu penting untuk saya," tanyaku pada salah seorang sopir.

"Maaf dek... bapak tidak pernah liat," jawabnya.

Semua sopir yang kutemui di sana telah kutanyai dengan pertanyaan yang sama, sayangnya semua jawaban mereka sama, tidak tahu! Aku mulai menyalahkan keteledoranku. Seharusnya ini tidak terjadi jika aku tidak lalai waktu itu, seharusnya berkas itu selalu bersamaku, protesku pada diri sendiri. Akupun mulai berpikir untuk membatalkan pendaftaran itu, dengan memberitahu mediator mengenai kendala yang aku alami.

Selang sebelum menghubungi mediator, seseorang me nelponku. "Siapa sih ini? Mengganggu saja, apa dia tidak tahu kondisiku saat ini ?" Dalam keadaan kesal, siapa saja bisa salah saat itu. Aku mencoba mengangkatnya.

"Assalamu alaikum, apa benar ini saudara Baso?"

"Iya Benar, ini siapa yah?" Tanyaku dengan penuh kebingungan

"Saya supir angkot yang kemaren kamu tumpangi saya temukan berkas, dan kebetulan ada nama dan nomor telpon kamu, jadi aku pikir ini punya kamu."

"Subahanallah...!!! Bapak serius? Benar... itu punya saya.”

“Iya dek... maaf yahh baru sempat nelpon kamu, karena bapak baru ada pulsa.”

Betapa keajaiban Tuhan datang padaku, berkas itu tertinggal di mobil angkutan umum yang ditemukan oleh seorang supir yang saat itu menelponku.

 

ADDARIAH EDISI 57, 20 APRIL 2019

 
Copyright © 2014 Addariah. Designed by OddThemes