BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmiah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2024

Misi Suci Paus Fransiskus ke Indonesia, kaitannya dengan Paradigma Dialog Beragama




Resume Nadwah

Pemateri : Andi Muhammad Akram Ibrahim

Moderator: Agung Putra Wijaya

Notulis: Azzahra Nur Awalia

 

 

 

            1.Keragaman Indonesia

 

             Negara yang ditakdirkan hidup dalam suatu kondisi objektif yang beragam, baik dari segi etnis, bahasa, budaya, dan agama, seharusnya bersyukur karena secara teologi menjadi lokus/bagian pengejawantahan sunatullah. Menolak keragaman berarti menolak sunatullah. Dalam Al-Quran ditegaskan:

 وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَة

"Dan jika Tuhan-Mu menghendaki niscaya ia menjadikan kalian satu umat". (QS. Al-Maidah/5: 48) 21.

Dalam ayat tersebut Allah swt., menggunakan kata/huruf لو (lau) bukannya إ نْ (in) atau إذا (idza) Dalam kaidah Tafsir dijelaskan, apabila Allah menggunakan kata lau (jika) maka sesungguhnya kenyataan itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Kalau kata in (jika) kemungkinan kenyataan itu bisa terjadi bisa juga tidak, dan kalau kata idza (jika) pasti kenyataan yang digambarkan itu akan terjadi. Masalahnya kamus bahasa Indonesia tidak memiliki kosakata sepadan dengan bahasa Arab, sehingga keseluruhannya diartikan dengan "jika”. Maka dalam hal ini keragaman adalah suatu keniscayaan.[1]

Membangun visi yang sama dalam masyarakat plural seperti Indonesia tentu bukan sesuatu yang mudah. Indonesia adalah suatu bangsa yang dipadati oleh berbagai ikatan primordial sebagai konsekuensi wilayahnya yang luas dan terdiri atas berbagai pulau besar dan kecil dengan keunikan bahasa dan budayanya masingmasing. Belum lagi kompleksitas nilai-nilai berbagai agama dan kepercayaan masih aktif dianut dalam masyarakat. Tarik menarik berbagai nilai di dalamnya, telah, sedang, dan akan terus membayangi bangsa ini.

 

            2. Biografi Paus Fransiskus

 

            Melansir dari berbagai sumber, sebutan Paus di Indonesia untuk pemimpin gereja Katolik karena pengaruh Belanda. Saat zaman kolonial Belanda, para Pasteur menggunakan istilah mereka saat menyebarkan agama di Nusantara. Adapun pemimpin Katolik dalam bahasa Belanda disebut De Paus. Sebutan De Paus kemudian lama-lama disebut dengan Paus oleh masyarakat.

            Paus dalam Gereja Vatikan memiliki peran ganda yakni sebagai kepala Negara sekaligus pemimpin tertinggi umat Katolik seluruh dunia. Saat ini diketahui bahwa gelar tertinggi pemimpin umat Katolik di dunia dijabat oleh Paus Fransiskus. 

            Paus Fransiskus, SJ (bahasa Latin: Papa Franciscus, bahasa Italia: Papa Francesco; lahir 17 Desember 1936), yang bernama lahir Jorge Mario Bergoglio, adalah Paus Gereja Katolik ke-266 yang terpilih pada hari kedua Konklaf (suatu pertemuan Dewan Kardinal tertutup yang diadakan untuk memilih seorang Paus) Kepausan 2013 pada tanggal 13 Maret 2013. 

            Paus Fransiskus adalah Imam Yesuit pertama dan orang Amerika Latin keturunan Italia pertama yang terpilih sebagai Paus. Ia juga menjadi Paus non-Eropa pertama dan orang dari Belahan Bumi Selatan pertama sejak Paus Gregorius III dari Suriah wafat pada tahun 741. 

 

            3. Dialog Beragama

            Dialog antar umat beragama sangat perlu untuk diketahui dan dilaksanakan karena Indonesia merupakan negara dengan banyak agama, budaya, suku, ras maupun bahasa. Perbedaan dalam hal beragama salalu menghiasi kehidupan seharisehari. Maka dari itu perlu adanya dialog supaya perbedaan-perbedaan tersebut tidak menjadi masalah serius yang bisa berdampak buruk terhadap orang lain atau timbul konflik yang mengatasnamakan agama. Pengertian dialog antar umat beragama perlu dipahami secara baik dan benar di kalangan masyarakat umum maupun di kalangan akademisi agar dialog antar umat beragama bisa berjalan dengan lancar dan bisa bermanfaat bagi umat beragama. Tidak seorang pun termasuk rakyat Indonesia menginginkan adanya konflik-konflik yang mengatasnamakan agama apalagi sampai menimbulkan korban. Salah satu tujuan dialog antar umat beragama adalah menghindari hal-hal yang dapat memecah keutuhan suatu bangsa. Sebaliknya dialog antar umat beragama bertujuan agar pemeluk agama bisa hidup berdampingan dengan damai, rukun, aman, saling menghargai dan saling menghormati.



 

            Dialog antar agama merupakan konsep komunikasi yang berfokus dalam rangka mewujudkan perdamaian  dunia. Hal ini dikarenakan dalam dialog tersebut, setiap  umat dituntut untuk bisa saling memahami keyakinan masing-masing. Melalui dialog antar agama itulah, semua penganut religi, meskipun dengan keyakinan yang jauh berbeda, bisa tetap memegang prinsip saling menghormati ajaran dan keyakinan agama lain.

            Masih hangat diperbincangkan kedatangan Paus Fransiskus di Indonesia yang membuka mata lebar-lebar, bagaimana agama dan kemanusiaan adalah satu kesatuan dengan inti ajarannya, yaitu kedamaian dan keharmonisan sebagai mejadi benang merah yang selalu terjalin kapan pun dan di mana pun. Sebagaimana Paus Fransiskus melalui khotbah-khotbah apostoliknya selalu membahas-bahas pesan kedamaian.

            Indonesia sendiri,  yang merupakan laboratorium toleransi dengan formula Bhineka Tunggal Ika-nya, selalu dapat meminimalisir perpecahan karena pebedaan di tubuh Indonesia adalah sesuatu yang telah dan akan selalu ada. Dialog beragama menjadi kunci jawaban dari persoalan-persoalan perbedaan yang ada, bahwa perbedaan tidak harus dipertentangkan bahkan itu adalah hal yang diwajari.

            Sebagaimana Cak Nun mempresentasikan ajaran agama-agama di dunia ini sebagai makanan terbaik yang disajikan di ruang saji. Tentu sebelumnya telah terjadi pemikiran dan eksekusi yang panjang, bahan mana yang dimasukkan di awal dan mana yang diakhirkan, berapa lama proses masaknya, keseimbangan bumbu penyedap, dan tentu keindahan penyajiannya adalah momen yang tidak boleh dilupakan.


Editor:Muhammad Jurais

 

 


Selasa, 24 September 2024

Menggali pemikiran besar dari Said Nursi, seorang tokoh besar dunia Islam yang digelari sebagai “Badiuzzaman”

                                                                    foto pemateri dan moderator



Resume Nadwah

Pemateri : Ustadz Dr. Mahkamah Mahdi,Lc.,MA.

Moderator : Haidir Rasyid

Notulis: Hamsah Hasbar

Tema : Muqoddimah Risalah Nur

 


1. BIOGRAFI SINGKAT SAID NURSI

Said Nursi adalah seorang ulama, cendekiawan muslim di era kekhalifahan Turki Utsmani. Masyhur akan kecerdasan dan pengaruhnya pada dunia Islam di zamannya. Bahkan ajarannya masih sangat terasa hingga saat ini.

Digelari oleh para ulama sebagai “Badiuzzaman” (orang yang tidak ada bandingan di zamannya). Berbagai kelebihan yang dimilikinya menunjukkan bahwa beliau memang berhak mendapatkan posisi ini. Kecerdasan beliau dalam agama, kemampuan beliau dalam mengambil keputusan, kehebatannya dalam merumuskan nilai-nilai Islam dan mengimplementasikannya dengan permasalahan masyarakat Islam kontemporer. Beliau dengan kemampuannya menjaga nilai-nilai Islam agar tetap kokoh ditengah gempuran budaya dan ajaran yang bermaksud merusak Islam.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh pemateri bahwa semasa hidupnya, Said Nursi telah mampu menghafal 90 judul kitab referensi keIslaman dan hanya butuh waktu 3 bulan untuk memurojaah hafalannya. Beliau menghafal kitab jam'ul jawami' (kitab tebal berisikan ilmu ushul fikih Islam) hanya dalam jangka satu pekan. Ketekunan belajar dibawah asuhan dan bimbingan gurunya menjadikan Said Nursi kemudian mendapat pengakuan dari gurunya Syaikh Fathullah Effendi akan kehebatannya. Selain ahli dalam keilmuan Islam beliau juga mahir dalam keilmuan umum seperti sains, politik, dan matematika. Dengan semua keahliannya ini membuatnya berbeda dibanding pelajar-pelajar yang lain.

2. RAHASIA KECERDASAN SAID NURSI

Rahasia kecerdasan beliau tidak lain terletak pada kedua orang tuanya. Orang tuanya sangat memperhatikan tumbuh-kembang keluarganya bahkan dalam hal-hal yang kecil sekalipun. Dikisahkan bahwa orang tua beliau ketika menggembalakan ternaknya ke padang rumput, mulut ternak-ternaknya akan ditutup, agar tidak memakan tanaman-tanaman yang dilalui dan akan dibuka ketika sampai ke padang rumput. Juga dikatakan bahwa tidaklah ibunya menyusui anaknya kecuali sebelum ia berwudhu. Pola asuh orang tuanya inilah yang kelak membuahkan hasil yang tertanam dalam diri Said Nursi berupa kejernihan berpikir, kebersihan hati untuk menerima ilham-ilham yang dianugerahkan Allah swt. Artinya adalah doa dan usaha dari orang tua untuk memberikan keteladanan kepada anak-anaknya dan hal ini penting. Terkhusus di zaman sekarang ini karena begitu berat dan susahnya bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya, ujar Ust. Mahkamah.

3. AWAL MULA MUNCULNYA KARYA FONUMENAL “RISALAH NUR”

Kitab Risalah Nur ditulis selama sekitar 25-30 tahun. Sebelum Khilafah Utsmaniyyah mengalami keruntuhan, Said Nursi sudah aktif menjadi seorang pembicara, sangat berpengaruh dan suaranya didengar oleh masyarakat luas. Inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal penulisan kitab Risalah Nur selama masa pengasingannya.

Said Nursi hidup di dua masa, Masa sebelum runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah dan masa berdirinya negara Turki dengan sistem sekuler. Said Nursi pada saat itu aktif ditengah masyarakat, sebagai penengah atas persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat, perselisihan antar suku, bahkan sampai ke ranah pemerintahan. Jadi Said Nursi tahu persis bagaimana permasalahan runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah, dari segi pendidikan, politik, militer, dan lain-lain.

Puncaknya adalah ketika Khilafah Turki Usmani berubah menjadi negara sekuler. Dan sebenarnya ini adalah desain yang panjang olah orang-orang yang tidak suka dengan Islam. Jadi yang pertama kali mereka hapuskan itu adalah sistem kesultanan Usmani dan kemudian menggantinya dengan sistem pemerintahan demokrasi.

Yang kedua, ketika sudah menjadi negara republik. Puncaknya ketika mereka sudah menerapkan kebijakan-kebijakan anti Islam. Seperti undang-undang pelarangan hijab, hukum ini diterapkan dan dipaksakan. Dan berbagai undang-undang lainnya yang semakin menjauhkan umat Islam dari agamanya. Pada masa inilah pemberian gelar seperti “Syaikhul Islamiyyah” itu ditiadakan, semua madrasah-madrasah ditutup, semua tarekat dilarang, adzan diganti dengan bahasa Turki, termasuk penggunaan bahasa arab dan tulisannya yang kemudian diganti dengan tulisan latin.

Hingga muncul beberapa kelompok pergerakan yang datang kepada Said Nursi untuk meminta pendapat dan memintanya untuk turut berjuang dalam rangka merebut kembali hak-hak Islam. Tapi apa kata Said Nursi? Beliau memiliki pandangan lain. Said Nursi berkata, “memberontak kepada negara pada saat ini sama halnya kalau kita melawan sayyidina Abu Bakar, Umar atau para sahabat lain. Apakah kita akan mengangkat senjata untuk saudara-saudara kita sesama muslim, tentu tidak. Senjata kita hanya untuk musuh-musuh Islam, adapun permasalahan dikalangan kita sendiri maka kita harus melakukan perubahan pemikiran”.

Berawal dari pemberontakan yang dipelopori oleh sebuah kelompok yang berasal dari Turki bagian Timur, inilah yang nantinya menjadikan Said Nursi diasingkan. Sebuah kelompok yang kemudian berhasil ditumpas pergerakannya oleh negara, semua pemberontak dihukum mati, Said Nursi pun turut merasakan getahnya. Said Nursi kemudian diasingkan, dipenjara dari satu sel ke sel lainnya meski tidak terlibat dalam pemberontakan. Ini terjadi pada tahun 1926. Di sinilah kemudian Sejarah Risalah Nur dimulai.

Said Nursi diasingkan di sebuah kampung bernama Barla yang jarang diketahui orang-orang, dan hanya sedikit masyarakat yang menghuni tempat tersebut, tentu dengan maksud menjauhkan Said Nursi dari masyarakat atau para pendukungnya. Para tentara rezim ini berharap ketika mereka mengasingkan Said Nursi di tempat ini, Beliau akan kehilangan kemampuannya dan pengaruhnya akan hilang ditengah masyarakat, namun yang terjadi malah sebaliknya. Said Nursi dengan ilham yang Allah swt. berikan tetap mampu menyebarkan cahaya Islam yang berupaya ditutup oleh orang-orang yang anti dengan Islam.

Ketika pemerintahan Turki dipindahkan ke Ankara, rezim sekuler ini kemudian membuat sebuah konsep ketidakpercayaan terhadap hari akhirat. Di saat yang sama Said Nursi menuliskan risalah pertamanya, Al-Hasyr membuktikan bahwa adanya kebangkitan. tentu dengan pembuktian secara rasional, agar bisa menandingi pemahaman anti Islam yang digaungkan rezim sekuler Turki.

Dalam Risalah Al-Hasyr, Said Nursi menyampaikan argumentasinya dengan rasional untuk membuktikan akan adanya hari akhir. Semua hal di dunia ini menghendaki adanya hari akhir, termasuk manusia dengan alat inderanya. Misalnya lidah kita yang dapat menikmati seribu satu rasa, mata yang bisa menikmati seribu satu warna, berikut beberapa alat indera manusia yang memiliki potensinya masing-masing, tapi menurutnya semua indera tadi ini tidak bisa terpuaskan di dunia. Yang bisa memuaskan semua ini adalah di syurga nanti. Ketika misalnya mata bisa melihat tajalli-Nya Allah swt. di situlah Indera mata ini terpuaskan. Jadi semua potensi-potensi yang dimiliki manusia menghendaki adanya akhirat. Said Nursi juga mengakatan bahwa semua sifat-sifat tuhan menghendaki adanya akhirat. Misalnya Ar Razzak (pemberi rezeki). Tentu semua rezeki yang ada di dunia ini bersifat fana, dan rezeki yang asli hanya ada di akhirat. Ketika tuhan dengan maha Razzak-Nya dibawa ke dunia yang fana, maka akan memberikan rezeki kepada para makhluk dunia, tapi apakah Ketika dunia ini nantinya hancur akankah sifat ke-Maha Razzak-Nya tuhan akan hilang pula? Tentu tidak. Tuhan akan selalu memberikan rezeki sebelum dan sesudah hancurnya dunia ini. Maka setelah dunia ini hancur dimana ke-Maha Razzak-Nya tuhan? Ya di akhirat. Fi jannatin ‘ardluhas-samâwâtu wal-ardlu, maka jika hanya ada dunia, semua nama-nama tuhan akan menjadi sia-sia dan mustahil bagi Allah swt. menjadikan namanya sia-sia.

Pada dasarnya, Risalah Nur ditujukan untuk orang-orang awam, yang sudah resah dengan peraturan perundang-undangan yang dikukuhkan oleh rezim sekuler. Hukum yang bersifat memaksa kepada seluruh masyarakat Turki saat itu. Jadi Said Nursi menuliskan Risalah Nur dengan diperkuat beberapa argumen yang rasional. Said Nursi mengatakan bahwa sekarang ini adalah zaman inqodul iman.  Yaitu zaman dimana iman sudah sampai ke tahap yang terancam. Jadi kita membutuhkan argumentasi yang sangat kuat sehingga kita bisa sampai ke tingkatan apa yang beliau sebut sebagai al iman at tahqiq, iman yang argumentar/argumentatif. Jadi apa bedanya dengan iman sebelumnya?

4. PERBEDAAN KUALITAS IMAN DI ZAMAN DULU DAN SEKARANG

Dahulu, orang melewati kesehariannya itu dengan sangat sederhana, bisa jadi dari pagi sampai sorenya itu tidak ada tantangan, tidak ada dosa yang dilakukan. Dizaman ini sangat berbeda, jadi tantangannya sangat berat sehingga membutuhkan iman tahqiqi. Dizaman ini iman taqlidi tidak bisa bertahan, hanya mengandalkan iman taqlidi, maka itu tidak akan bisa bertahan di dunia ini. Keadaan seperti ini pernah dikabarkan oleh nabi sebagaimana dalam hadisnya :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan “Di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia”. [HR. Muslim]

Artinya adalah kita butuh sesuatu yang lebih kuat dari sebelumnya. Dulu kita berperang menggunakan bambu runcing, sekarang kita butuh alat yang hanya sekali tekan sudah bisa mengenai target dengan cepat dan tepat. Senjata kita harus sesuai dengan tantangan yang ada. Dan inilah yang berusaha diwujudkan oleh Said Nursi untuk menjawab tantangan-tantangan baru dihadapan umat Islam.

Apa yang ada dihadapan kita, itu semua adalah dalil akan keberadaan Allah swt. Semua yang kita lihat adalah ciptaan tuhan yang telah dikaruniakan kepada umat manusia untuk diolah. Tembok misalnya, diolah oleh manusia. Padahal tembok dan seluruh partikel-partikel ditembok itu semuanya adalah ciptaan tuhan. Dan semua ciptaan Allah adalah mukjizat. Allah swt. dengan sifat qudrahnya menciptakan sesuatu dan memberinya qudrah. Sekecil akar tumbuhan yang menjalar di dalam tanah, mencari nutrisi untuk kelangsungan hidupnya, tanpa ada kebocoran dan kemudian menghasilkan buah yang bermanfaat untuk makhluk hidup lain. itulah ciptaan Tuhan dan di situ ada qudrah Allah swt.

Seperti halnya partikel udara, nikmat yang paling besar sekaligus gratis. Namun kadang kita lalai untuk mensyukurinya. Said Nursi pernah mengatakan nikmat yang paling besar sebenarnya di atas muka bumi ini adalah nikmat yang bersifat universal yang menjadi dasar kehidupan banyak orang, seperti air, udara, itulah yang seharusnya lebih utama kita syukuri ketimbang apa yang masuk di mulut kita. Partikel udara contohnya, bisa menerima pesan yang tak terhitung jumlahnya, suara yang kita dengar ini merambat melalui partikel udara yang tak terlihat, partikel udara dalam jumlah yang banyak bisa menghancurkan sebuah bangunan. Partikel udara dalam satu waktu bisa menerima dan mengirim banyak pesan dan dalam satu waktu bisa menghancurkan bangunan, kekuatan dari mana itu? Inilah kekuatan yang  Allah berikan. Jadi di setiap ciptaan Allah di situ ada tanda kebesaran Allah swt.

Begitupun dengan penciptaan manusia, Dengan triliunan sel yang berada di tiap-tiap tubuh manusia yang tersusun rapi, bekerja pada tugas dan fungsinya masing-masing. Semuanya kembali kepada tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Maka, cara untuk mendapatkan keimanan yang tahqiqi sebagaimana yang dikatakan oleh Said Nursi adalah kita kembalikan semua fenomena kebesaran Tuhan ini kepadanya. Apa yang kita lihat ini semuanya adalah cerminan dari asmaul husna. Bahkan kita pun adalah cermin dari asmaul husna. Manusia adalah makhluk Allah yang paling bisa menjadi cerminan asmaulhusna, dan Nabi Muhammad saw. adalah cerminan yang paling besar, manusia yang paling bisa mencerminkan sifat-sifat Allah swt.

PERTANYAAN:

1.Apa misi yang dibawa kitab Risalah Nur?

Jawaban:

Ust. Mahkamah menyebutkan sedikit dari bagian kitab risalah yang mana Said Nursi berkata bahwa perumpamaan dunia Islam itu sepert sebuah rumah. Dan risalah ini bukan untuk memperbaiki keretakan-keretakan di rumah itu. Juga bukan memperbaiki bagian kecil rumah itu. Melainkan memperbaiki keretakan besar dunia Islam, dan merenovasi benteng besar Islam yang satu batunya itu seperti gunung. Tidak memperbaiki pikiran seseorang tententu tapi lebih kepada cakupan masyarakat yang lebih luas. Said Nursi dengan sangat yakin mengatakan bahwa Al-Quran yang turun di zaman Nabi yang berhasil menumbangkan dua negara adidaya besar di zaman itu, mengubah wajah dunia dalam waktu yang sangat singkat. Al-Quran yang bisa melakukan hal tersebut di zaman itu, Al-Quran itu juga yang bisa melakukan itu di zaman sekarang. Jadi untuk mengatasi keretakan ini, maka dibutuhkan argumentasi yang tidak terbantahkan.

2. Kenapa kemudian karya Said Nursi bisa tersebar luas di masyarakat sedang beliau berada dalam pengasingan yang lama, serta penderitaan yang terus ditimpakan bertubi-tubi kepadanya?

Jawaban:

Ust. Mahkamah memberi penjelasan bahwa orang-orang yang membantu Said Nursi adalah orang-orang sederhana, orang-orang awam. Mereka paham dengan risalah beliau kemudian menyalinnya. Risalah itu kemudian dikirim ke sebuah tempat bernama Sparta, dan di sanalah risalah ini kemudian disalin sebanyak-banyaknya dan disebarkan. Ketika rezim sekuler menyita risalah ini dan dibawanya ke pengadilan, didapati hampir mencapai 60.000 examplar salinan dan hanya ditulis tangan. Inilah yang membuat gusar pemerintahan karena jumlah salinan Risalah Nur ini tersebar di mana-mana, Istanbul, Ankara, dan lain lain di semua tempat.

Jadi bagaimana dengan keadaan umat Islam sekarang ini? Terbitnya kitab Risalah Nur bukan serta-merta membebaskan umat Islam dari belenggu keterpurukan dan kemunduran. Jatuhnya Islam pada masa Khilafah Turki Utsmani merupakan pukulan keras sejarah yang belum ada tanda-tanda kebangkitannya sampai saat ini? Jadi apa solusi dari pemasalahan Islam sekarang ini?

Ust. Mahkamah menceritakan sebuah kisah ketika mufti Mesir Syekh Bakhit, berkunjung ke Istanbul. Ulama di Turki kemudian meminta Syekh Bakhit untuk memberikan pertanyaan kepada Said Nursi. Hal ini karena tidak seorang pun dari mereka yang bisa mengalahkan Said Nursi dalam berargumen. Syekh Bakhit kemudian menemui Said Nursi di dekat masjid Aya Sophia. Syekh Bakhit bertanya, “Bagaimana anda melihat dunia Islam dengan dunia barat?” Said Nursi menjawab bahwa dinasti Turki Utsmani atau dunia Islam mengandung barat dan suatu saat akan melahirkan barat, dunia barat sedang mengandung Islam dan suatu saat akan melahirkan Islam. Syekh Bakhit kemudian merespons dengan jawaban ini dan setuju dengan Said Nursi.

Mengenai keadaan umat muslim sekarang ini, kita harus terima bahwa kita sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, tapi dengan cara seperti itu kita bisa bangkit. Said Nursi adalah orang yang sangat optimis dengan masa depan. Dalam salah satu catatannya beliau menyampaikan innal mustaqbal sayakunu lil Islam, walil Islami wahdahu. Bahwasanya masa depan itu akan menjadi milik Islam, dan hanya Islam sendiri. Karena di masa depan nanti, hakikatlah yang akan berbicara. Jadi kebohongan-kebohongan itu akan terhapus. Ust. Mahkamah melanjutkan, “Ada dua hal dalam Islam yang nantinya akan menjadi pijakan dalam membangun kemajuan. Dua hal itu adalah materil dan spiritual. Inilah yang membedakan Islam dengan dunia barat. Materil hanya dimiliki barat sedang Islam memiliki kedua-duanya. Umat manusia menunggu peran Islam karena yang bisa menyelamatkan kehidupan dunia hanya Islam. Dan ini hanyalah masalah waktu. Berlalunya zaman yang akan mewujudkan kejayaan itu”.

3. Apa makna kata “Nur" dalam konteks Risalah Nur? dan bagaimana cara mengamalkannya  dalam kehidupan sehari-hari?

Jawaban:

Ada banyak alasan beliau memilih kata "Nur" dalam konteks Risalah Nur,diantaranya: beliau terinspirasi dari kata nur; karena Nur mampu menyelesaikan berbagai permasalahan. Di samping itu nama ibu beliau adalah Nuriyah dan guru beliau pun bernama Nur Muhammad. Untuk mengamalkannya kita disarankan untuk membaca kitab Risalah Nur itu sendiri terlebih dahulu.

4.Setiap yang ada  didunia ini akan dikembalikan kepada Allah swt. , sedangkan di dunia ini banyak hal-hal yang tidak masuk diakal,seperti wali Allah. Lalu bagaimana cara beliau memberikan dalil ‘ aqli yang bahkan bisa membungkam para filsuf?

Jawaban:

Beliau menjelaskan bahwa karomah itu adalah sesuatu yang tsabit dan semua karomah  kembali kepada dasarnya yaitu pada mukjizat Nabi. dan pada sejatinya ada qudrah Allah yang membantu mukjizat itu.




Editor: Muhammad Jurais

Rabu, 28 Februari 2024

Kapan isu politik identitas mewarnai diskusi di Indonesia?

Foto pemateri 

Resume Nadwah Ilmiah IADI Mesir

Jumat, 16 Februari 2024

Pemateri: Alman Haris Harjuni

Moderator: Andi Baso Alwan Jaya 

Notulis: Ahmad Adnang

Tema: POLITIK IDENTITAS DALAM PARADIGMA POLITIK ISLAM


Politik identitas merupakan alat perpolitikan yang digunakan oleh suatu kelompok seperti suku, etnis, budaya, agama atau sebagainya. Politik Identitas merupakan alat politik yang digunakan untuk melakukan perlawanan atau juga digunakan sebagai alat untuk menunjukan jati diri kelompok-kelompok tersebut. Politik Identitas memiliki fokus pada permasalahan yang terkait dengan perbedaan-perbedaan yang tertuju pada fisik tubuh, pertentangan agama, etnisitas, budaya, ataupun bahasa yang digunakan. Politik Identitas lahir karena adanya kepentingan minoritas yang termarjinalkan.

Jika ditelisik dari sejarahnya, politik identitas muncul karena reaksi bukan aksi, sebagai akibat alih-alih penyebab. Ketika kelompok mayoritas atau mainstream mengabaikan kelompok tertentu yang memiliki arus pinggiran dalam politik, apakah itu suku, kedaerahan atau keagamaan.

A. Konsep Politik.

Politik pada mulanya terambil dari bahasa Yunani kuno atau bahasa Latin, politicos atau ploiticus yang berarti relating to citizen. Keduanya berasal dari kata polis yang berarti warga Negara atau warga kota. Dalam bahasa Inggris, kata politic menunjukkan sifat pribadi atau perbuatan yang berarti bijaksana. Politik diartikan pula sebagai kebijakan, cara bertindak

Secara istilah, “politik” pertama kali dikenal melalui buku Plato yang berjudul Politeia yang juga dikenal dengan Republik. Kemudian muncul karya Aristoteles yang berjudul Politeia. Kedua karya ini dipandang sebagai pangkal pemikiran politik yang berkembang kemudian. Dari karya tersebut dapat diketahui bahwa politik merupan istilah yang dipergunakan untuk konsep pengaturan Masyarakat

B. Konsep Plitik Islam

Secara istilah, banyak tokoh cendekiawan muslim yang memberikan definisi dan pandangan tentang politik Islam. Menurut Syekh Muhammad Imarah, politik Islam merupakan sebuah praktek politik yang lebih mendekatkan manusia kepada kemaslahatannya, dan menjauhkannya dari kerusakannya, walaupun tidak secara langsung disyariatkan atau diturunkan wahyu berkenaan dengannya.

Atas dasar itulah terdapat perbedaan yang mendasar antara politik Islam yang berorientasi dengan dunia dan akhirat dengan politik umum (sekuler) yang sebatas berorientasikan dunia semata, karena politik sekuler hanya mengurus manusia yang berorientasikan duniawi, untuk kehidupan duniawinya, guna mencapai tujuan duniawinya semata.

C. Politik Identitas

Tidak ada definisi tunggal untuk istilah “politik identitas” (identity politics) dalam literatur. Namun secara umum, politik identitas dikaitkan dengan agenda, aksi, aktivisme politik yang di dalamnya anggota kelompok berbasis identitas mengorganisasi dan memobilisasi diri untuk melawan ketidakadilan yang dialami karena struktur, sistem, dan praktik yang hegemonik.

D. Politik Identitas Dalam pandangan Politik Islam

Ada tiga hal mendasar yang menjadi inti beridentitas dalam politik menurut Hadratussyekh Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Nahdhatul Ulama: Melihat fenomena yang ada pada Masyarakat terkait politik identitas, dimana segala cara dilakukan politisi dalam mendapatkan kekuasaan. Dan tentu identitas adalah salah satu alat untuk mencapai itu. Misalnya identitas Agama, maklum saja kewajiban setiap warga negara Indonesia yang tertuang dalam Pancasila pada urutan pertama adalah ketuhanan yang maha esa, Ini memiliki arti bahwa Setiap warga negara Indonesia memiliki kewajiban untuk beragama. Dalam hal ini pastinya al-Qur’an akan ikut andil dalam meluruskan pemahaman mengenai politik identitas ini. Disebutkan secara eksplisit keragaman etnis manusia dalam AlQur’an, Al-Qur’an juga menyebutkan perbedaan bangsa-bangsa dan suku-suku yang menunjukkan pengakuan terbuka Islam terhadap

keragaman etnis dan budaya manusia.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti”(Al-Hujurat:13)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit bukan untuk saling mencemoohkan, tetapi supaya saling mengenal dan menolong. Allah tidak menyukai orang-orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaannya karena yang paling mulia di antara manusia pada sisi Allah hanyalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Kebiasaan manusia selalu memandang harkat martabat itu selalu ada sangkut-pautnya dengan kebangsaan dan kekayaan. Padahal menurut pandangan Allah, orang yang paling mulia itu adalah orang yang paling takwa kepada-Nya.

Pertanyaan Panelis

• Pertanyaan: Kapan isu politik identitas mewarnai diskusi di Indonesia?

• Jawaban: Pelacakan dokumen yang terindeks “Google” menemukan frasa ini sudah digunakan di pertengahan atau akhir 1990an. Secara spesifik, pelacakan terhadap artikel ilmiah di “Google Scholar” menemukan, buku pertama berbahasa Indonesia yang menyinggung isu ini adalah tulisan Muhammad A.S. Hikam (2000) yang berjudul “Islam, Demokrasi, dan Permberdayaan Civil Society”.


Untuk selengkapnya baca di link ini:

https://docs.google.com/document/d/1SpGXGngYWrDAN2y7bHKmit7TrfCzLt4_/edit?usp=drivesdk&ouid=112339717109274718683&rtpof=true&sd=true


Jumat, 03 November 2023

Dengan adanya ihtimal terhadap sesuatu, pantaskah kita menghukuminya dengan sesuatu yang haram?

 

Foto pemateri 


Resume Nadwah Ilmiah IADI Mesir

Jumat, 27 Oktober 2023

Pemateri: Moh Fachri Hidayat 

Moderator: Muhammad Tahmid

Notulis: Ilham Hasad dan Muh Hasby Ash Shiddiq 

Tema: Implikasi At-Tark dalam penentuan Hukum Syar’i dan Hubungannya Terhadap Bidah


• Bidah secara global terbagi menjadi bidah hasanah dan bidah sayyi’ah. Sebagian ulama membaginya kepada lima hukum. Pada intinya, bidah secara global terbagi menjadi beberapa jenis karena cakupannya yang luas.

• Bidah secara syar’i adalah segala sesuatu baru yang tidak memiliki sandaran kepada syariat baik melalui dalil khusus maupun dalil umum dan perbuatan tersebut menyelisihi kaidah syariat. Itulah yang dimaksud oleh Rasulullah dalam hadist (كل بدعة ضلالة). Bukan seperti yang diartikan sebagian orang bahwa bidah adalah segala ibadah yang tidak dilakukan oleh Nabi. Karena apabila seperti itu, maka akan menghukumi sebagian sahabat seperti Umar bin khattab sebagai ahli bidah.

• Tidak semua perbuatan yang ditinggalkan Nabi Muhammad hukumnya haram dan bidah syar’i, perlu diketahui bahwa nabi muhammad meninggalkan suatu perbuatan disebabkan beberapa hal diantaranya:

1. Meninggalkan karena adat dan kebiasaan, seperti ketika Nabi meninggalkan makan dhob (kadal gurun).

2. Meninggalkan karena lupa, seperti ketika Nabi lupa ketika salat kemudian sujud syahwi.

3. Meninggalkan karena takut perbuatan tersebut diwajibkan, seperti ketika Nabi meninggalkan salat tarawih di saat sahabat berkumpul untuk ingin salat bersama beliau.

4. Meninggalkan karena tidak terfikirkan.

5. Meninggalkan karena takut membuat sahabat sedih, seperti ketika Nabi menolak menghacurkan ka’bah dan membangun lagi sebagaimana pertama kali ka’bah dibangun ketika zaman Nabi Ibrahim. Alasannya adalah karena para sahabat ketika itu baru masuk Islam.

• At-tark tidak menunjukkan hukum apapun. Akan tetapi segala perbuatan baru yang tidak dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabat bisa jadi memilki dalil khusus maupun umum yang membuatnya memiliki hukum.

Berdasarkan niat, at-tark dibagi menjadi dua:

1. At-Tark al-Maqsud: yaitu yang dilakukan karena suatu tujuan. Seperti ketika seseorang meninggalkan makan ketika ia berpuasa.

2. At-Tark ghoiru al-Maqsud: yaitu meninggalkan perbuatan memang bukan karena tujuan tertentu. Contohnya adalah seperti Nabi tidak pernah memasuki hammam (kamar mandi) seperti zaman sekarang.

• IMPLIKASI DARI AT-TARK

Apabila kita menganggap bahwa segala hal yang tidak ada di zaman Nabi adalah bidah dan haram, maka sungguh akan banyak sekali warisan keislaman yang kita tabrak, seperti ijmak, kias, perkataan sahabat dan perbuatannya.

Bahkan seluruh pendapat ulama dalam Ilmu Tafsir, Hadits, Fikih, Bahasa dan lainnya akan kita bidahkan. Maka dengan pemikiran seperti ini seluruh turost Islam akan menjadi bidah karena belum ada di zaman Nabi.

Dalam mempraktikkan permasalahan ini, alangkah baiknya kita berikan contoh amalan-amalan baru yang banyak dilakukan kaum muslimin seperti perayaan maulid Nabi, zikir berjamaah, dan bersalaman setelah salat.

Amalan amalan tersebut tidak pernah dilakukan Nabi secara khusus.

• Secara sosial, alangkah baiknya kita mengetahui definisi dahulu sebelum menghukumi, agar kita tidak menciptakan berbagai keributan di masyarakat juga menjaga agar kedamaian antarsesama senantiasa tercipta.

Sesi tanya jawab

Pertanyaan : Bagaimana tanggapan pemateri tentang لوكان خيرا ما سبقون إليه ?

Jawaban : Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah أن يوافق السنة bukan أن يخالف السنة.

Untuk lebih selengkapnya disini: https://docs.google.com/document/d/1CkPY5mN-Q8a-Kv4JTBhTVAQp2WZ3n6Mf/edit?usp=drivesdk&ouid=112339717109274718683&rtpof=true&sd=true

Rabu, 11 Oktober 2023

Bagaimana kita dapat memahami konsensus Al-Qur’an dan Filsafat Stoikisme ?

 

Foto pemateri 


Resume Nadwah Ilmiah IADI Mesir
Jumat, 6 Oktober 2023

Pemateri: Andi Muh Akram Ibrahim 

Moderator: Rahmat Khaedar Syawal

Notulis: Muh Ibnu Haldum Saleh L 

Tema: HAKIKAT KEBAHAGIAAN HIDUP: KONSENSUS ANTARA
AL-QUR’AN DAN FILSAFAT STOIKISME

Kebahagiaan (happiness) adalah cita-cita yang didambakan setiap manusia dalam menjalani kehidupannya. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar manusia, akan berusaha semaksimal mungkin dalam mewujudkan kebahagiaan yang diimpikannya. Dalam agama, semua praktek ibadah yang disyariatkan kepada manusia tidak lain memiliki orientasi untuk meraih kebahagiaan yang hakiki. Sedangkan menurut pandangan filsafat, kebahagiaan merupakan suatu tingkat pencapaian tertinggi oleh manusia. Semua teori yang dikembangkan para filsuf berakhir pada satu kesimpulan, yakni mencari tahu cara mencapai kebahagiaan.

Kebahagiaan disebutkan Al-Quran dengan kata saadah, falah, surur, farih dan lainnya (Sofia & Endah Puspita Sari, 2018). Dalam leksikal Arab setidaknya ada empat kata yang hampir mendekati konsep kebahagiaan, yaitu said (bahagia), falah (beruntung), najat (selamat), dan najah (berhasil).

Berbicara mengenai kebahagiaan, ada beberapa faktor dan indikator yang mensyaratkan manusia untuk menggapai sebuah kebahagiaan, sebagaimana alquran sudah jelaskan, berupa iman dan takwa, tawakal, sabar, dan syukur.

Lantas bagaimana kita dapat memahami konsensus Al-Qur’an dan Filsafat Stoikisme ?

Konsensus sendiri adalah konsep yang bertujuan untuk menemukan kesepakatan yang disetujui bersama, baik kelompok maupun individu berdasarkan bukti-bukti ilmiah (Silalahi, 2008).

Berdasarkan penelusuran di berbagai literatur, diperoleh beberapa ajaran filsafat stoikisme yang memiliki kesamaan konsep dengan ajaran Al-Qur’an khususnya yang berhubungan dengan terma kebahagiaan hidup. Baik dari segi keselarasan antara amor fati dan syukur, antara qona’ah dan rasa cukup, sabar dan pengendalian emosi, sunnatullah dan hidup secara nature.

Pada dasarnya banyak kemiripan konsep antara Al-Qur’an dan filsafat stoikisme terkait hakikat kebahagiaan. Sebab, Al-Qur’an adalah petunjuk yang mendorong manusia untuk menggunakan akal sehatnya, terlihat pada kalimat afala tatafakkarun, afala ta’qilun, afala yatadabbarun, yang semua itu adalah jargon Al- Qur’an terkait betapa pentingnya penggunaan akal. Filsafat memprioritaskan akal sebagai metode dalam memperoleh kebenaran memiliki titik temu dengan Al- Qur’an yang mendorong pentingnya penggunaan akal (Azhar, 2018)


Untuk file makalahnya bisa diunduh di bawah ini: https://drive.google.com/file/d/18xCFfRGY6Iw_v87e5Ye5twijeL5TBx8u/view?usp=drivesdk

Sabtu, 02 September 2023

Artificial Intelligence (AI) makin pesat!, apakah ini menjadi ancaman bagi seorang da'i?

Foto pemateri Nadwah

Resume Nadwah Ilmiah IADI Mesir

Jumat, 1 September 2023

Pemateri: Afriadi Ramadhan

Moderator: Mushawwir Rahman

Notulis: Muh Ibnu Haldum Saleh L dan Ahmad Adnang 

Tema: Kajian Teoritis: Ancaman Artificial Intelligence (AI) Terhadap Eksistensi Profesi Dai di Masyarakat Umum

- Seiring berkembangnya zaman, teknologi juga semakin berkembang. Namun, alih-alih menjadi peluang, kemajuan teknologi juga sebenarnya merupakan ancaman. Hal tersebut akan dibahas dalam penelitian kali ini. Untuk menjawab pertanyaan: “Apakah kecerdasan buatan dapat menggantikan peran da'i sebagaimana profesi manusia yang lain?”

- John McCarthy sebagai salah satu bapak pencetus Artificial Intelligence menjelaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan adalah proses yang diterapkan pada teknologi untuk menirukan cara berpikir manusia dan membuat mesin dapat melakukan tugas-tugas yang bisa dilakukan manusia.

- Salah satu teknologi AI yang paling canggih adalah jenis Generative AI. Mesin cerdas jenis ini memiliki kecerdasan dan kreativitas yang melebihi manusia pada umumnya. Ia dapat membuat karya digital baru, baik dalam bentuk tes, foto, video, dan pemprograman secara otomatis. Tak membutuhkan waktu lama dan bisa bekerja kapan saja. Jenis inilah yang kemidian paling dikhawatirkan mengambil alih peran manusia.

- Dalam laporan World Economic Forum, robot tomatis yang berbasis AI diprediksi akan menggantikan setidaknya 85 juta pekerjaan manusia pada 2025 mendatang.

- Hal ini juga menjadi ancaman besar terhadap masa depan pelajar islam yang bercita-cita menjadi pendakwah. Bisa jadi kita setelah mengenyam pendidikan dengan susah payah selama bertahun-tahun, ketika ilmu dan pengetahuannya telah matang, ketika ia sudah siap terjun ke Masyarakat, justru pada saat itu Masyarakat sudah tidak lagi membutuhkannya.

- Maka AI dengan segala kelebihannya telah memasang bom untuk menghancurkan lapangan pekerjaan para pendakwah. Ceramah dan tausiah para ulama besar telah terekam dengan topik yang sangat banyak dan komprehensif.

- Langkah awal untuk mengatasi problematika ini bis akita mulai dengan satu pertanyaan sederhana; Apakah penceramah adalah sebuah profesi?

- Dalam hadis Nabi Saw. berbunyi, “Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat …” (H.R. Tirmizi). Nas ini kemudian menjadi landasan kewajiban dakwah atas setiap muslim, baik Perempuan maupun laki-laki. Berdaakwah bukan hanya kewajibana para ulama, kiai, atau oleh siapa pun. Akan tetapi merupakan perintah dari Allah dan Rasul-Nya secara langsung kepada setiap individu.

- Jadi, penceramah atau pendakwah itu bukanlah sebuah profesi, melainkan kewajiban. Bukan pilihan baik menjadikan kegiatan ceramah sebagai sumber penghasilan utama. Sebab ceramah adalah seruan agama, tetap harus disampaikan meski tidak ada imbalan materi yang diterima. Kalaupun diberi rezeki dari kegiatan ceramah, maka itu hanyalah sampingan. Tetap diperlukan adanya pekerjaan utama sebagai sumber penghasilan pokok. Sebuah pekerjaan yang memang pantas dijadikan sebagai pekerjaan

- Kasus-kasus demam yang dihadapkan kepada seorang dokter tentu tidak bisa digeneralisasi dan diberikan resep yang sama. Bisa jadi, berbagai faktor dan perbedaan riwayat masing-masing pasien membuat seorang dokter memberi resep yang berbeda. Demikianlah halnya dengan fatwa, setiap kasus harus diagnosa ulang, digali dan mustafti harus melewati investigasi untuk sampai pada resep fatwa yang tepat (Mahdi: 2022).

- Walaupun semua orang pelajar Islam merasa ketakutan terhadap AI yang akan merebut masa depan dunia dakwah, maka berhenti belajar sama sekali bukanlah jalan keluar. Kita harus menyediakan back-up yang tertanam dalam diri kita. Sesuatu yang bisa diandalkan jika suatu saat AI tiba-tiba menghilang. Maka sebab itu, tidak ada pelajar Islam yang perlu merasa kecil hati atau tidak percaya diri terhadap masa depan. Selalu ada harapan untuk kehidupan. Allah Swt. secara jelas melantik manusia sebagai khalifah di permukaan bumi, bukan malaikat, apalagi robot buatan.

- Kemudian agar para pendakwah bisa hidup berdampingan dengan mesin canggih seperti AI, maka diperlukan kesadaran pribadi masing-masing untuk mau mengenali dan mempelajari teknologi cerdas ini. Agar jatuhnya kita tidak bersaing, melainkan saling berdampingan. Manusia tetap melakukan tugas utamanya, sedangkan AI dijadikan sebagai alat yang dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan manusia. Bukan sebaliknya. Selaras dengan program edukasi masyarakat yang dicanangkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia saat ini.

- Berangkat dari hal tersebut, para pelajar Islam benar-benar harus memantapkan penguasaan ilmu alat demi kemampuan improvisasi dan pengembangan isu Islam yang akan disesuaikan dengan perkembangan zaman.


Kesimpulan:

Artificial Intelligence (AI) berkembang sangat pesat dan berpotensi merebut pekerjaan manusia. Tidak hanya para pekerja berat, namun pekerja kreatif juga ikut terancam. Eksistensi para pendakwah juga ikut terancam akan kecerdasan mesin buatan ini. Karena dia dapat mengingat, menyimpan, dan dapat menyampaikan kapan saja dan di mana saja jutaan informasi tentang agama Islam kepada jamaah yang membutuhkan. Berbeda dengan seorang dai yang terkadang dibatasi oleh tenaga, waktu, dan ilmu. Namun dalam perkembangannya, meskipun sebagian ranah dakwah bisa diambil oleh AI, tetap ada harapan untuk para pelajar Islam di masa depan. Begitu juga dalam lingkup pendakwah pada umumnya, ada beberapa kategori pendakwah yang bagaimana pun pesatnya perkembangan AI dalam mengambil alih, atau mengancam peranan pendakwah, eksistensi pendakwah-pendakwah ini tidak akan bisa digantikan oleh AI. Misalnya seorang mufti, qadi' dan elemen pendakwah yang lainnya. Peranan mereka tidak akan tergantikan oleh keberadaan AI yang mengancam profesi-profesi lain. Berbagai poin penting yang telah dijelaskan panjang lebar sebelumnya menguatkan argumen itu. Dan kalau mau diutarakan secara sederhana dan masuk akal, maka “Sesuatu yang diciptakan oleh manusia tidak akan pernah bisa mengalahkan makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt.”


Untuk file makalahnya bisa diunduh di bawah ini:

https://drive.google.com/file/d/12aljG7IuCZGrZmKpAeepwRYxPEnqLdsb/view?usp=drivesdk

Rabu, 22 Maret 2023

Sejarah Berdirinya Dinasti Fatimiyah Hingga Penaklukan Mesir

 

Foto Pemateri Nadwah

Resume Nadwah Ilmiah IADI Mesir


Jumat17 Maret 2023

 

Pemateri : Muhammad Iqbal Nurul Awal

Moderator : Muhammad Aminuddin Syarif

Notulis : Ikhlas Zulamal, Mahmud Nabil

Tema Sejarah Berdirinya Dinasti Fatimiyah Hingga Penaklukan Mesir

 

Setelah berhasil menalukkan Mesir pada tahun 358H, Jauhar Ash-Soqly menjadi penguasa Mesir selama empat tahun hingga 362H. Jauhar banyak sekali membuat kemajuan kepada Negeri Mesir di antaranya pembangunan Kota Kairoketika Jauhar Ash-Soqly berhasil menduduki Mesir dengan pasukan berkudanya, maka ia mulai merancang pembangunan ibu kota baru sebagai pusat penyebaran Syiah Ismailiyyah di Mesir bahkan di seluruh dunia Islam.

 

Adapun di Mesir sebelum dibangunnya Kota Kairo, terdapat tiga Kota Islam yang ada di Mesir, yaitu: 

Kota Fustat yang dibangun oleh seorang Sahabat bernama Sayyidina Amru bin Ash ketika beliau menaklukkan Mesir antara tahun 19H – 20H yang bersampingan dengan Kota Babilion Kuno. Juga Kota Fustat menjadi Kota pertama kaum Muslimin di Afrika.

Kota kedua, bernama Kota Askar yang dibangun pada tahun 132H ketika Marwan bin Muhammad yang merupakan Khalifah terakhir Dinasti Umawiyyah kabur dari kejaran pasukan Abbasiyyah. Marwan bin Muhammad lari ke Mesir untuk berlindung dan membakar Kota Fustat dan jembatan yang menyambungkan antara bagian barat dan timur sungai Nil. 

Karena terbakarnya Kota Fustat, maka dibangunlah Kota Askar sebagai Kota islam kedua di Mesir. 

Kota ini dibangun oleh panglima Abbasiyyah bernama Saleh bin Ali. 

Adapun posisi Kota Fustat berada di bagian timur laut Kota Fustat.

Kota ketiga, bernama Qatai’. Kota ini dibangun oleh Ahmad bin Tulun ketika menguasai Mesir pada tahun 256H. Wilayah Kota ini berada di bagian timur Kota Askar.

Kota Kairo menjadi Kota islam keempat yang dibangun di Mesir oleh panglima Jauhar Ash-Soqly. Sebab lain Jauhar membangun Kota Kairo dan tidak menggunakan Kota yang telah ada, karena penduduk Kota sebelum Kairo didominasi oleh penganut Mazhab Sunni yang mana Jauhar dan para pasukannya didominasi oleh panganut Mazhab Syiah.

 

- Pembangunan Masjid Al-Azhar juga merupakan salah satu kemajuan yang dibuat oleh jauhar dengan bertujuan untuk memudahkan penyebarang Mazhab Syiah Ismailiyyah di Mesir, maka Jauhar membangun Masjid Al-Azhar sebagai lambang berdirinya dakwah Ismailiyyah di Mesir. Ia juga menjadikan Masjid Al-Azhar sebagai pusat pembelajaran yang ada di Mesir.

 

Masjid Al-Azhar dibangun pada bulan Ramadhan 359H/970M dan selesai pada tahun 361M yang ditandai dengan dibukanya salat Jumat di Masjid Al-Azhar.

Masjid Al-Azhar menjadi masjid pertama yang dibangun di Kota Kairo. 

Adapun sebab penamaan masjid ini dinisbahkan kepada Sayyidah Fatimah Az-Zahra, anak Nabi Muhammad.

 

- Makna Jahiliah yang diambil dari karangan salah satu guru di Al-Azhar itu ada tiga:

عدم المعرفة على القراءة و الكتابة

عبادة الأوثان

الرد على عبادة الله

Kata jahiliah dikhususkan untuk zaman sebelum nabi yang mana di zaman itu mereka terkenal dengan syair-syair yang indah sehingga diturunkanlah Al-Quran untuk menandingi syair mereka.

 

- Perbedaan antara khilafah dan kesultanan ialah khilafah orang yang mengatur seluruh perkara kaum muslimin di seluruh dunia berbeda dengan kesultanan yang mereka mengatur wilayahnya sendiri, menggunakan kata khalifah ketika mendirikan kerajaan itu jarang atau bahkan tidak ada karena dasar kekhalifahan itu 

الأمة من القريش atau yang berhak menggunakan kekhalifahan itu orang yang mempunyai keturunan dengan Rasulullah saw. 

 

-Kata dinasti merupakan serapan dari kata daulah yaitu suatu kerajaan yang diganti kepemimpinannya oleh keturunannya sendiri.

 

-Kata Egypt merupakan kata yang dibuat oleh orang barat yang berasal dari ايجيبتوس

dan مصر kata yang digunakan di hadist dan Al-Qur’an.


Untuk file makalahnya bisa diunduh di bawah ini: 

https://drive.google.com/file/d/1zWz2xiYKUiYNhiSDJn4FC1JmW7VCnpHt/view?usp=drivesdk

Rabu, 01 Maret 2023

Maqasid Syariah dan Maslahat Manusia

 

Foto Pemateri Madwah

Resume Nadwah Ilmiah

Jumat, 24 Februari 2022

 

Pemateri: Muhammad Taufiq Hidayat

Moderator: Andi Raihan Muflih

Notulis: Mugni Maulidia. S, Zulfahmi AR

Tema: Maqasid Syariah dan Maslahat Manusia

(Studi Analisis Tentang Tujuan Syariat, Konsep Maslahat, dan Bantahan Atas Syubhat Kaum Sekuler)

 

A. MAQASID SYARIAH

Pengertian

Pengertian Maqasid Syariah terdiri dari dua kata, Maqasid dan Syariah. Secara etimologi bahasa Arab, kata Maqasid merupakan jamak dari kata مقصد  masdar mimi atau dari kata مقصد ism makan yang bermakna مقصود . Makna secara zahirnya adalah mengarah kepada sesuatu. Sedang secara maknawi berarti tekad atau keinginan.

Adapun kata Syariah, merupakan masdar dari kata شرع yang bermakna tempat keluarnya air, sumber, atau asalnya. Adapun Syariah yang dimaksud dalam term ini adalah hukum-hukum Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, untuk kemudian disampaikan kepada umat manusia baik itu secara langsung ataupun melalui ijtihad para fakih.

Menurut terminologi ushuliyyin, Maqasid Syariah adalah tujuan-tujuan syariat dalam memelihara umat manusia dan mengangkat derajat hidupnya menuju peradaban tertinggi dengan cara menjaga lima atau enam prinsip utama dalam ajaran islam yang meliputi pemeliharaan terhadap agama, jiwa, akal, nasab, harga diri, dan harta.

 

Dalil Maqasid Syariah:

Dalil yang dimaksud bisa dari dalil-dalil yang mencakup hukum syariat secara umum, seperti firman Allah SWT:

وما أرسلناك الا رحمة للعالمين

 

الر كتاب أنزلناه اليك لتخرج الناس من الظلمات الى النور باذن ربهم الى صراط العزيز الحميد

 

Sejarah dan Perkembangan

Maqasid Syariah sebagai mafhum, muncul bersamaan dengan adanya hukum syariat atau dengan kata lain bahwa awal maqasid ini dimulai saat turunnya wahyu Allah SWT.

 

Ruang Lingkup Maqasid Syariah

Maqasid Syariah sebagai ilmu, fokus pada maksud hukum syariat. Namun pada bahasannya

ia dibagi ke dalam empat bidang tinjauan yang berbeda, yaitu:

a) Tujuan utama hukum syariat.

Merealisasikan kebahagian dunia dan akhirat bagi manusia.

b) Tujuan syariat dari segi perbuatan yang diperintahkan.

Menjadikan amalan yang disyariatkan berada dalam kemampuan hamba.

c) Dipahami bahwa syariat sangat memperhatikan kesanggupan mukallaf dalam perintah dan larangannya.

Tujuan syariat dari segi nas dan pemahaman terhadap nas tersebut.

Memberikan pemahaman kepada umat manusia melalui teks yang jelas tentang hukum dan maksud Allah SWT. dalam menyampaikan perintah dan larangannya menggunakan media yang bisa dimengerti manusia yaitu bahasa Arab.

d) Tujuan syariat dari segi pelaksanaan dan kewajiban seorang mukalaf di bawah aturan agama.

Melaksanakan perintah dan larangan dengan maksud menggapai ridha Allah SWT. secara khusus, serta bertujuan sesuai dengan tujuan syariat bukan karena maksud lain yang timbul dari hawa nafsu.

 

 Macam-Macam Maqasid Syariah

Ulama Islam mengelompokkan maqasid syariah dari segi derajatnya ke dalam tiga bagian:

a) Maqasid Daruriyah (Primer)

Maqasid daruriyah adalah tujuan mutlak yang harus dipenuhi guna menjaga keberlangsungan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat. Meninggalkan maqasid daruriyah bisa menghilangkan atau hampir-hampir meniadakan agama, jiwa, akal, nasab atau keturunan, harga diri, atau harta. Maqasid daruriyah ini selanjutnya dalam term ushuliyyin dikenal dengan sebutan Kulliyat al-Khams atau Kulliyat al-Sitt.

b) Maqasid Hajiyah (Sekunder)

Maqasid hajiyah adalah tujuan yang disandarkan pada hukum syariat guna memenuhi

kebutuhan manusia. Jika tidak terpenuhi, manusia bisa berada dalam kesulitan dan kesukaran, meski tidak sampai menghilangkan tujuan utama syariat. Maqasid hajiyah sendiri tetap masuk pada ranah ibadah, adat serta muamalah.

c) Maqasid Tahsiniyah (Tersier)

Maqasid tahsiniyah adalah tujuan yang disandarkan pada hukum syariat guna menyempurnakan eksistensi dua maqasid sebelumnya seperti menghiasi diri dengan akhlak terbaik, menghindari perilaku-perilaku tercela serta melakukan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan ibadah sunnah.

 

B. KONSEP MASLAHAT

Seluruh manusia di muka bumi - terlepas dari perbedaan agama, bangsa, ras, suku, dst.- akan selalu mencari menfaat serta menghindarkan bahaya dari diri mereka sendiri. Sebab mencari maslahat adalah fitrah manusia. Tapi menjadi penting untuk mengetahui defenisi maslahat hakiki menurut syariat agar maslahat yang dimaksud tak mengganggu kemaslahatan orang lain, apalagi mengaburkan syariat agama itu sendiri.

1. Pengertian Maslahat

Secara bahasa, kata maslahat memiliki arti manfaat baik secara makna atau pun bentuk kata. dengan begitu segala sesuatu yang memiliki manfaat baik ) المصلحة: المنفعة و كل منهما علي وزن مفعلة( itu dengan menjaga atau memperoleh kesenangan atau dengan menghindar dari kesulitan seperti menjauhi hal-hal yang dapat menyakiti dapat disebut sebagai maslahat.

Menurut term, syariat maslahat adalah manfaat yang diinginkan oleh Allah SWT. bagi hambanya dengan memelihara agama, jiwa, akal, nasab, harga diri, serta hartanya. Sesuai dengan urutan ini. Manfaat yang dimaksud di sini adalah kesenangan serta jalan memperolehnya, begitu pula menjauhkan bahaya serta jalan menuju bahaya itu sendiri.

2. Ruang Lingkup Maslahat dan Perbedaannya dengan Maqasid Syariah

Ruang lingkup maslahat tidak berbeda dengan maqasid karena eksistensi/misdaq keduanya adalah satu. Jadi maslahat yang diakui oleh syariat terbatas pada bentuk maslahat yang berada di bawah cakupan kulliyat al-sitt. Perbedaannya hanya pada esensi atau mafhum. Sebab maslahat adalah manfaat yang berkaitan langsung dengan hamba, sedangkan maqasid adalah tujuan dari hukum-hukum syariat dan berkaitan dengan pemilik syariat. Pada dasarnya maqasid mengandung maslahat atau dengan kata lain bahwa maslahat adalah bagian dari maqasid. Dari sini, bisa ditarik sebuah kaidah bahwa hukumsyariat dengan segala macamnya menjamin kemaslahatan hamba.

3. Karakteristik Maslahat dalam Syariat Islam

Para filsuf menganggap bahwa maslahat hanya berkaitan dengan kehidupan dunia saja, materialis, serta tak ada kaitannya dengan agama atau dengan kata lain agama mengikuti maslahat.

Sedangkan ushuliyyin mengatakan bahwa karakteristik maslahat berbanding terbalik dengan pendapat filsuf. Menurut mereka maslahat itu duniawi dan ukhrawi, materi dan rohani serta agama adalah asas dan maslahat mengikuti perintah syariat.

Maka dhawabith maslahat adalah sebagai berikut:

1. Berada dalam cakupan maqasid syariat.

2. Tidak menyelisihi Alquran.

3. Tidak menyelisihi sunnah.

4. Tidak menyelisihi qiyas.

5. Tidak mendahului maslahat yang lebih utama atau sama dengannya.

 

C. SYUBHAT KAUM SEKULER DAN BANTAHANNYA

1. Syubhat Ruh Syariat

Syubhat ini menyebutkan bahwa syariat memiliki ruh dengan tujuan besar yaitu memberi maslahat kepada umat manusia. Dengan begitu semua wasilah yang membuat manusia memperoleh maslahat diamini syariat.

Jawaban:

Tidak ada perbedaan bahwa hukum syariat bertujuan untuk memberi maslahat bagi manusia, tapi benang merahnya adalah, apa yang dimaksud dengan maslahat? Apakah maslahat itu tunduk pada hawa nafsu manusia sehingga segala hal yang menyenangkannya adalah maslahat atau yang dimaksud adalah maslahat yang dibatasi dengan standar tertentu sehingga hawa nafsu tidak punya akses untuk bermain dengan syariat?

Pada hakikatnya, maslahat dalam syariat dipahami serta diamini atas hasil penelitian panjang dari dalil dan hukum syariat yang dalam banyak tempat melarang suatu perbuatan yang dipahami sekelompok orang sebagai maslahat baginya, misalnya berzina, memakan harta anak yatim, dst. Dengan begitu, secara logis mustahil bagi maslahat untuk menyelisihi perintah syariat itu sendiri.

 

2. Syubhat kalimat “Intinya berlaku baik kepada sesama, meski tak beragama”

Syubhat ini banyak didengunkan muda-mudi era modern, dengan mengatakan bahwa sama saja, agama ingin mendidik manusia agar baik terhadap sesama. Jadi kalau sudah baik dari awal tak perlu beragama.

Jawaban:

Benar jika dikatakan bahwa agama datang untuk mendidik manusia agar baik terhadap sesama. Tapi apakah tujuan agama sebatas itu? Tidakkah agama juga menuntun pada keselamatan setelah hidup duniawi? Apakah sebagai mahluk ciptaan sekaligus hamba, tidak ada kewajiban yang harus ditunaikan kepada pencipta? Apakah layak berbuat baik kepada sesama ciptaan tanpa menghiraukan penciptanya?

Pada dasarnya, agama Islam tidak sekadar mendidik manusia agar baik terhadap sesama, lebih dari itu, syariat juga menuntun manusia menuju penghambaan paripurna kepada Allah Swt. serta kebahagiaan abadi di akhirat.

 

Pertanyaan seputar makalah:

1. Apakah Maqasid Syariah itu ada pada agama lain?

semua agama samawi mempunyai prinsip maqasid syariah ini, cuma berbeda pada syariatnya saja tapi itu tidak serta memberi kita alasan merasa bebas untuk mengikuti agama apa pun karena maqasid syariah yang dimaksud adalah hasil dari perintah syariat Islam, sedangkan jalan memperoleh hasil tadi adalah hukum syariat yang wajib ditunaikan.

 

2. Apakah kedudukan dari maqasid ini pada permasalahan mencuri agar bisa bertahan hidup (hifz An-Nafs)?

Permasalahan mencuri demi mempertahankan hidup. Jika ditinjau dari segi pengaplikasian konsep maqasid syariah, maka mencuri adalah sesuatu yang dilarang oleh syariat guna menjaga harta (Hifz al-Mal). Sedangkan mempertahankan hidup adalah bagian dari menjaga jiwa (Hifz al-Nafs) yang derajatnya lebih tinggi dari Hifz al mal.

Maka perlu diperhatikan dengan sangat detail, jika yang dimaksud dengan "mempertahankan hidup" adalah sekedar memperoleh sepotong makanan agar ia tak mati maka ia boleh mengambil makanan tersebut (dengan syarat tak ada lagi cara lain untuk memperoleh makanan)  dengan asas kaidah fiqhiyah:

الضرورة تبيح المحظورات

dan kaidah;

الضرورة تقدر بقدرها

Jadi kadar makanan yang diambil itu harus betul-betul sesuai kebutuhan, guna menjaga maqsid yang utama (Hifz al-Nafs) tapi Ia tetap harus bertanggung jawab mengembalikan makanan tsb, saat sudah mampu. Adapun jika yang dimaksud dengan bertahan hidup pada kasus di atas adalah "mencuri sebagai jalan bertahan hidup secara umum" maka hal ini haram secara mutlak. Karena pada kasus ini, ia tidak sedang dalam keadaan darurat yang membuat ia harus mengambil hak orang lain agar ia tak mati.

 

3.  Apakah kita sebagai pendakwah atau pelajar wajib untuk memahami Maqasid Syariah atau tidak?

Pelajar yang bergelut dengan ilmu-ilmu syariat wajib mempelajari ilmu maqasid syariah. Meski ilmu tersebut adalah salah satu syarat menjadi mujtahid, itu tidak serta-merta memberi kesimpulan bahwa yang tidak ingin jadi mujtahid tidak perlu mempelajarinya meski itu pelajar agama. Tidak. Sebagaimana wudu tidak hanya berguna bagi orang yang mau salat begitu pula kedudukan ilmu ini terhadap selain mujtahid. Sungguh memahami maqasid syariah bagi pelajar agama di era ini menjadi sesuatu yang sangat-sangat penting, terlebih dengan banyaknya syubhat dan tuduhan yang ditujukan pada agama Islam atas asas fikr al-Maqaasidy. Kalau ilmu seperti ini saja tidak dipahami dengan baik oleh mereka yang mengaku pelajar agama, bagaimana bisa generasi ini berdiri kokoh menjawab dengan baik setiap tuduhan yang ditujukan pada agama ini.

 

Pertanyaan seputar kepenulisan makalah:

Pada penulisan foot note, apakah kata yang ingin dijadikan catatan kaki setelah angkanya dulu baru titik?

 Pada kutipan langsung bisa dengan menuliskannya di badan tulisan atau di catatan kaki dengan menyertakan nama pengarangnya, judul buku dan tahun terbitnya. Sedangkan pada kutipan tidak langsung harus ditulis di badan tulisan.

 

Untuk file makalahnya bisa diunduh di bawah ini:

https://drive.google.com/file/d/1ZXKOaNo1uJsI0BAwG1JvuWcYXkJDxekK/view?usp=drivesdk

 
Copyright © 2014 Addariah. Designed by OddThemes